SURAH ALI 'IMRAN 190-195

ALI 'IMRAN (57)

ALI 'IMRAN 190-195

PENGARAHAN UNTUK MEMIKIRKAN PENCIPTAAN LANGIT DAN BUMI, BALASAN BAGI ORANG-ORANG YANG BERAMAL, BAIK LAKI-LAKI MAUPUN PEREMPUAN

 

*SEBAB TURUNNYA AYAT*

*1. Sebab turunnya ayat 190:*
*Imam Thabrani dan Ibnu Abi Hatim* meriwayatkan dari *Ibnu Abbas r.a.*, ia berkata, "Suatu ketika, ada sekelompok kaum Quraisy datang menemui kaum Yahudi, lalu mereka Quraisy- berkata, "Ayat-ayat apa yang dibawa oleh Nabi Musa a.s. kepada kalian?" Mereka berkata, "Tongkatnya dan kedua tangannya yang putih bercahaya kelihatan oleh orang-orang yang melihatnya." Lalu mereka ganti pergi menemui kaum Nasrani dan berkata, "Bagaimana dengan Isa a.s., ayat-ayat apa yang ditunjukkan olehnya kepada kalian?" Mereka berkata, "Dahulu, ia bisa menyembuhkan orang yang buta bawaan sejak lahir; menyembuhkan orang yang mengalami penyakit kusta dan mampu menghidupkan kembali orang yang sudah mati." Lalu mereka ganti datang kepada Nabi Muhammad saw. dan berkata kepada beliau, "Berdoalah kepada Tuhanmu supaya mengubah bukit Shafa menjadi emas." Lalu beliau pun berdoa kepada Allah SWT lalu turunlah ayat ini, supaya mereka mau memikirkan dan merenunginya."

*Ibnu Katsir* berkata, "Namun riwayat ini agak janggal, karena ayat ini termasuk ayat Madani sedangkan kisah kaum Quraisy yang datang meminta agar Nabi Muhammad saw. berdoa kepada Allah SWT supaya mengubah bukit Shafa menjadi emas terjadi di Makkah."

*2. Sebab turunnya ayat l95:*
*Abdurrazzaq, Sa'id bin Manshur; Tirmidzi, al-Hakim dan Ibnu Abi Hatim* meriwayatkan dari *Ummu Salamah r.a.* bahwa ia berkata,:

"Wahai Rasulullah, saya tidak mendengar Allah SWT menyebut kaum wanita dengan sesuatu di dalam hal hijrah. " Lalu Allah SWT menurunkan ayat ini."

*Keutamaan ayat ini:*

Banyak hadits yang menjelaskan tentang keutamaan ayat ini, di antaranya adalah, hadits yang diriwayatkan oleh *Ibnu Murdawaih dan Abd bin Humaid dari Atha',* ia berkata, "Suatu ketika, saya bersama Ibnu Umar dan Ubaid bin Umair pergi menemui sayyidah Aisyah r.a.  Lalu kami pun masuk menemuinya yang kala itu antara kami dan sayyidah Aisyah r.a. dipisahkan oleh satir atau kain penyekat. Lalu sayyidah Aisyah r.a. berkata, "Wahai Ubaid apa yang menghalangimu untuk mengunjungiku (maksudnya sudah lama tidak mengunjunginya)?" Lalu Ubaid menjawabnya dengan perkataan seorang penyair,

"Berkunjunglah secara berkala, tidak terlalu sering, maka perasaan cintamu akan semakin bertambah."

Lalu Ibnu Umar r.a. berkata kepada sayyidah Aisyah r.a., "Ceritakanlah kepada kami tentang sesuatu yang paling mengagumkan yang kamu lihat dari Rasulullah saw." Lalu sayyidah Aisyah r.a. berkata, "Segala hal tentang beliau semuanya mengagumkan. Pada malam giliranku, Rasulullah saw. datang kepadaku hingga kulit tubuh beliau menyentuh kulit tubuhku, kemudian beliau berkata, "Biarkan aku beribadah kepada Tuhanku." Lalu sayyidah Aisyah r.a. berkata kepada beliau, "Sesungguhnya saya sangat senang berada di dekatmu dan saya senang kamu beribadah kepada Tuhanmu." Lalu beliau berdiri menuju ke qirbah (tempat penyimpanan air minum yang terbuat dari kulit), lalu beliau menuangkan air untuk berwudhu, namun beliau tidak terlalu banyak menuangkannya. Kemudian beliau berdiri menunaikan shalat, lalu beliau menangis hingga air mata membasahi rambut jenggot (cambang) beliau. Kemudian beliau sujud, lalu menangis hingga tanah di bawah beliau basah oleh air mata. Kemudian beliau berbaring di atas lambung beliau, lalu lagi-lagi beliau menangis, hingga Bilal datang hendak mengumandangkan adzan. Lalu Bilal berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah, apa yang membuatmu menangis, padahal Allah SWT telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang." Lalu beliau berkata, "Celaka kamu wahai Bilal, bagaimana aku tidak menangis, padahal malam ini, Allah SWT menurunkan kepadaku ayat, (إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَـٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَـَٔايَـٰتٍۢ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَـٰبِ) - (ayat 190 surah Ali 'Imran)." Kemudian beliau bersabda, "Celaka bagi orang yang membaca ayat ini namun ia tidak memikirkan dan merenunginya."

Dikatakan kepada al-Auza'i, "Apa inti memikirkan dan merenunginya?" Lalu ia berkata, "Yaitu membacanya dengan memahaminya secara mendalam.".

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Ayat-ayat ini menunjukkan kepada beberapa hal seperti berikut:

1. Manusia harus memikirkan dan merenungi keajaiban-keajaiban penciptaan langit dan bumi. Karena hal ini menunjukkannya kepada iman yang benar karena penciptaan langit dan bumi tidak lain oleh Dzat Yang Maha Hidup Kekal lagi terus-menerus mengurusi makhluk-Nya, Dzat Yang Maha Kuasa lagi Maha Kaya tiada butuh kepada alam. Karena keimanan harus disandarkan kepada dalil dan bukti yang kuat dan pasti yang menunjukkan kepastian akan keberadaan iman itu sendiri secara nyata, tidak disandarkan kepada taklid atau kepada iman warisan belaka.

2. Ulama mengatakan, disunnahkan bagi orang yang bangun tidur untuk mengusap wajahnya dan membaca sepuluh ayat terakhir dari surah Ali 'Imran, meniru Rasulullah saw seperti yang tersebutkan di dalam shahih Bukhari Muslim dan yang lainnya. Kemudian menunaikan shalat fardhu subuh dan shalat sunnahnya. Dengan begitu, berarti ia telah menggabungkan antara pikir dan dzikir atau amal saleh dan bentuk pengabungan dua amal ini adalah sebaik-baik amal.

*Abu Nashr al-Wa'ili as-Sijistani al-Hafidz* meriwayatkan dari *Abu Hurairah r.a.*, bahwa *Rasulullah saw.* membaca sepuluh ayat terakhir dari surah Ali 'Imran setiap malam.

3. Seorang Mukmin hendaknya selalu berdzikir kepada Allah SWT dalam setiap keadaan, baik ketika berdiri, duduk, berbaring dan yang lainnya, supaya dirinya selalu berhubungan dengan Tuhannya. *Allah SWT berfirman:*

_"Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya."_ *(al-Ahzaab: 41)*

_"ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu"_ *(al-Baqarah: 152)*

Hal ini menuniukkan bahwa seseorang ketika shalat, maka ia shalat sambil berdiri, jika tidak mampu, maka sambil duduk, namun jika tidak mampu, maka sambil berbaring di atas lambungnya. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh hadits yang diriwayatkan di dalam _kutubus sittah_ dari hadits *'Imran bin Hushain r.a.*, ia berkata:

_"Suatu ketika, saya mengidap penyakit wasir (ambeien), lalu saya bertanya kepada Rasulullah saw. tentang tata cara shalatku, lalu beliau bersabda, "shalatlah sambil berdiri, jika tidak mampu, maka sambil duduk, namun jika tidak mampu, maka sambil berbaring di atas lambung."_

Berdiri di dalam shalat fardhu hukumnya wajib bagi orang yang memang mampu untuk berdiri. Sedangkan shalat sunnah, boleh dikerjakan sambil duduk namun pahalanya separuh dari pahala jika dilakukan dengan berdiri, sedangkan jika dilakukan sambil berbaring, maka pahalanya separuh dari pahala jika dilakukan sambil duduk. Di dalam hadits *'Imran bin Hushain r.a*. menurut sebuah riwayat disebutkan:

_"Shalatnya orang yang sambil tiduran separuh dari shalatnya orang yang sambil duduk."_

Dzikir ada kalanya dengan lisan dan ada kalanya dengan mengerjakan shalat, baik shalat fardhu maupun shalat sunnah.

4. Digabungkan kepada ibadah dzikir amal yang lain, yaitu tafakur, memikirkan dan merenungi kekuasaan Allah SWT dan makhluk ciptaan-Nya supaya semakin bertambah kearifannya dan bertambah kuat keimanannya.

5. Bentuk-bentuk ucapan doa di dalam ayat-ayat ini menunjukkan akan keimanan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, kepercayaan dan keyakinan akan janji Allah SWT dan keyakinan bisa bersama orang-orang saleh serta menunjukkan akan kelengkapan permohonan dengan doa meminta ampunan dosa, ditutupinya aib dan kesalahan serta dijauhkan dan diselamatkan dari api neraka. Karena sesungguhnya Allah SWT menjanjikan pahala surga bagi setiap orang yang beriman. Oleh karenanya, mereka memohon agar mereka termasuk orang-orang yang diberi janji tersebut tanpa dihinakan dan dihukum. Doa dalam bentuk seperti ini termasuk sebagian dari ibadah, dan doa adalah otak ibadah. Ayat ini juga menunjukkan tentang doa memohon pertolongan dan kemenangan terhadap musuh demi membela agama dan menjadikannya mulia. *Anas bin Malik r.a*. meriwayatkan bahwa *Rasulullah saw. bersabda:*

_"Barangsiapa yang Allah SWT menjanjikan pahala kepadanya atas amal baik yang dilakukannya, maka Allah SWT pasti akan memenuhi untuknya janji tersebut sebagai bentuk rahmat-Nya. Sedangkan barangsiapa yang Allah SWT mengancamnya dengan hukuman atas dosa yang diperbuatnya, maka dalam hal ini, Allah SWT bebas berkehendak (maksudnya, jika berkehendak, maka Allah SWT akan menghukumnya atau sebaliknya, akan mengampuninya)."_

Maksud doa memohon Allah SWT memenuhi janji-Nya adalah, memohon taufik dan pertolongan dari-Nya supaya mereka tetap bisa menjaga hal-hal yang menjadi sebab dipenuhinya janji tersebut. Atau hal ini merupakan salah satu bentuk pendekatan kepada Allah SWT dan sikap tunduk serta merendahkan diri kepada-Nya.

Sebagaimana halnya para Nabi yang selalu beristighfar meminta ampunan dan maghfirah dari Allah SWT padahal mereka sebenarnya sudah tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang terampuni. Hal ini mereka lakukan dengan tujuan untuk merendahkan diri dan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan mereka.

6. Janji pahala Allah SWT yang diberikan atas benarnya keimanan dan amal saleh mengandung tiga unsur:
= _Dihapusnya kesalahan dan diampuninya dosa, "pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka."_ *(Ali  'Imran:195)*
= _Mendapatkan surga, "dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya,"_ *(Ali 'Imran: 195)*
= _Pahala yang ada diikuti dengan pemberian penghargaan dan penghormatan, "sebagai pahala di sisi Allah- Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik."_ *(Ali 'Imran: 195)*

7. Balasan tergantung amal, jika amal baik, maka balasannya juga baik. Jika amal jelek, maka balasannya juga jelek.

8. Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan di dalam masalah amal dan pahala. Karena laki-laki dan perempuan berasal dari jenis dan keturunan yang sama. Laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama di dalam pentaklifan (pembebanan) perintah dan larangan, hukum, ketaatan, pertolongan dan yang lainnya.

_"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."_ *(at-Thaubah: 71)*

9. Di dalam ayat-ayat ini kata, (رَبَّنَآ) disebutkan secara berulang sebanyak lima kali. Hal ini memiliki faedah al-Isti'thaaf (meminta belas kasihan) dan menampakkan karunia Allah SWT berupa tarbiyah, kekuasaan dan al-Ishlaah (perbaikan) yang diberikan kepada mereka.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login