SURAH ALI 'IMRAN 176-180

ALI 'IMRAN (53)

ALI 'IMRAN 176-180

*DIHILANGKANNYA KESEDIHAN DARI HATI RASULULLAH SAW. SETELAH PERANG UHUD, BANTAHAN TERHADAP KAUM KAFIR DAN ORANG-ORANG KIKIR SERTA MEMBEDAKAN ANTARA YANG BURUK DAN YANG BAIK*

*SEBAB TURUNNYA AYAT*

*1. Sebab turunnya ayat 179:*
*As-Suddi* dan yang lainnya berkata, *"Rasulullah saw. bersabda,* _"Diperlihatkan kepadaku umatku dalam bentuknya masing-masing seperti halnya diperlihatkan kepada Adam.

Aku diberi tahu siapa-siapa orang yang beriman kepadaku dan siapa-siapa orang yang kafir"._ Lalu hal ini sampai ke telinga kaum munafiK lalu mereka mengejek dan berkata, "Muhammad mengira bahwa dirinya mengetahui siapa-siapa orang yang beriman dan siapa-siapa orang yang kafir; padahal kami berada bersamanya, namun ia tidak mengetahui siapa kami sebenarnya." Lalu Allah SWT menurunkan ayat ini.

*Al-Kalbi* berkata, "Orang Quraisy berkata, "Wahai Muhammad, kamu mengira bahwa orang yang menentangmu akan masuk neraka dan Allah SWT murka kepadanya. Sedangkan orang yang mengikuti agamamu adalah termasuk penduduk surga dan Allah SWT ridha kepadanya. Kalau begitu, coba beritahukan kepada kami siapa-siapa orang yang beriman kepadamu dan siapa-siapa orang yang kufur dan tidak beriman kepadamu." Lalu Allah SWT menurunkan ayat ini."

*Abul Aliyah* berkata, "Kaum Mukminin meminta supaya mereka diberi tahu tentang tanda yang dengan tanda tersebut, mereka bisa membedakan antara orang Mukmin dan orang munafik, lalu Allah SWT menurunkan ayat ini.

*2. Sebab turunnya ayat 180:*
*Mayoritas ulama* berpendapat bahwa ayat ini turun berkaitan dengan orang-orang yang tidak mau membayar zakat. *Athiyyah* meriwayatkan dari *Ibnu Abbas r.a.* bahwa ayat ini turun berkaitan dengan para pendeta Yahudi yang menyembunyikan keterangan tentang sifat-sifat dan kenabian Nabi Muhammad saw. Jadi, yang dimaksud bakhil di sini adalah menyembunyikan ilmu yang Allah SWT berikan kepada mereka.

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Tidak perlu untuk bersedih hati atas sikap kaum kafir; Yahudi dan kaum munafik yang selalu membela dan menolong berbagai bentuk kekufuran. Karena mereka tidak akan mendatangkan mudharat kecuali pada diri mereka sendiri dengan menjadikan diri mereka terancam terkena siksa yang keras dan dengan sikap mereka tersebut, berarti tanpa disadari mereka juga mempublikasikan tentang buruknya perilaku mereka, tentang lemahnya akal mereka dan kekeliruan pandangan mereka. Begitu juga, bisa dipastikan mereka tidak akan mendatangkan mudharat kepada Nabi Muhammad saw karena tugas yang diminta dari beliau hanyalah menyampaikan saja, dan Allah SWT menolong, menguatkan, menjaga dan melindungi beliau dari manusia.

Akan tetapi *al-Qusyairi* berpendapat bahwa pada dasarnya bersedih atas kekufuran orang kafir termasuk bentuk ketaatan, namun dikarenakan kesedihan Nabi Muhammad saw. atas kekufuran kaum beliau terlalu berlebihan, sehingga beliau dilarang untuk jangan terlalu bersedih hati seperti itu, "Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh setan)? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (Faathir: 8)

_"Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur'an)."_ *(al-Kahfi : 6)*

Mereka sekali-kali tidak akan sedikit pun mendatangkan mudharat dan kerugian kepada Allah SWT. Maksudnya, dengan kekufuran mereka tersebut, tidak akan pernah sedikit pun mengurangi kerajaan dan kekuasaan Allah SWT. Hal ini Allah SWT tegaskan di dalam ayat 176 dan l77. Baik apakah mereka bersegera kepada pemberian dukungan, pembelaan dan pertolongan kepada kekufuran atau mereka mengambil kekufuran sebagai ganti keimanan, maka semua ini sekali-kali tidak akan sedikit pun mendatangkan kemudharatan kepada Allah SWT. Akan tetapi sebaliknya, mereka justru hanya mendatangkan mudharat kepada diri mereka sendiri, karena dengan sikap mereka itu, berarti mereka menyebabkan diri mereka dipastikan terancam siksa yang pedih. Allah SWT tidak menyegerakan hukuman terhadap seseorang atas suatu dosa meskipun itu adalah dosa besar seperti kekufuran.

Akan tetapi, Allah SWT memberinya tangguh, memanjangkan umurnya dan memberinya kehidupan yang enak supaya ia sadan tobat dan bisa mengerjakan amal saleh. Jadi, seakan-akan pemberian tangguh dan panjang umur ini bisa mendatangkan dampak yang diharapkan, yaitu kesadaran, keimanan, ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, bertambahnya kebaikan dan mengurangi kejelekan dan kemaksiatan. Akan tetapi kenyataan yang ada membuktikan ternyata manusia keliru di dalam memahami hal ini, sehingga mereka terus-menerus berada di dalam kesesatan dan kekufuran, mereka mengira bahwa tambah panjangnya usia, kehidupan yang sejahtera dan ditangguhkannya siksa dan hukuman dari mereka adalah lebih baik bagi mereka. Padahal sebaliknya, hal itu merupakan sebuah bencana besar menjadi sebab semakin bertambahnya dosa dan kemaksiatan serta menjadi sebab mereka berhak mendapatkan siksa yang sangat pedih sebagai balasan yang setimpal.

Janganlah orang-orang yang menakut-nakuti dan membuat kaum Muslimin ragu terhadap faedah iman dan amal saleh, bahwa dengan itu mereka telah melakukan kebaikan. Karena sesungguhnya Allah SWT Maha Kuasa untuk membinasakan mereka. Jangan mereka sangka bahwa kemenangan yang mereka dapatkan pada perang Uhud adalah lebih baik bagi mereka. Akan tetapi justru sebaliknya, hal itu menjadi sebab bertambahnya hukuman dan siksa yang akan ditimpakan kepada mereka. 

*Ibnu Mas'ud* berkata, "Tidak ada seorang pun, baik ia saleh atau suka bermaksiat kecuali kematian lebih baik bagi dirinya. Karena, jika ia adalah orang saleh, maka Allah SWT telah berfirman:

_"Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti."_ *(Ali 'Imran: 198)*

Sedangkan jika ia adalah orang yang hanyut di dalam kemaksiatan, maka sesungguhnya *Allah SWT telah berfirman:*

_"sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka adzab yang menghinakan."_ *(Ali 'Imran: 178)*

Bencana, cobaan dan musibah mengandung unsur ujian seberapa jauh kebenaran sebuah iman. Dengan bencana, cobaan dan musibah, bisa terseleksi siapa sebenarnya orang yang Mukmin dan siapa sebenarnya yang munafik. Ketika itulah, tersingkap hakikat orang-orang munafik, sehingga selanjutnya kaum Mukminin bisa waspada dan berhati-hati terhadap mereka dan bisa memprediksikan seberapa besar kekuatan yang benar yang mereka miliki dan bisa diandalkan. Bahkan bencana dan cobaan bisa menyingkap seberapa besar keimanan seorang Mukmin, sehingga tidak tertipu dengan hal-hal yang bersifat lahiriah dan mampu mengetahui hakikat dirinya sebenarnya berupa lemahnya keyakinan, rusaknya akhlak dan penyakit hati. Mengetahui hal-hal yang gaib hanya terbatas pada para Nabi dan rasul, karena mereka adalah orang-orang yang memiliki kemuliaan dan kedudukan tinggi yang menjadikan mereka laik dan pantas untuk itu.

Kewajiban manusia tidak lain hanya beriman kepada apa yang dibawa oleh para rasul berupa berita-berita gaib, bertakwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Orang-orang kafir seharusnya tidak menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak membawa faedah bagi mereka berupa pengetahuan siapa sebenarnya orang yang beriman dan siapa sebenarnya orang yang tidak beriman. Akan tetapi, seharusnya mereka hanya menyibukkan diri dengan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka, yaitu iman yang berarti membenarkan dan meyakini apa yang dibawa oleh para rasul, bukan malah selalu ingin tahu tentang hal-hal yang gaib. Karena, jika mereka beriman dan bertakwa, maka bagi mereka pahala surga.

Ayat 180 mengandung penjelasan-penjelasan seperti berikut:

1. Janganlah orang-orang yang bakhil mengira bahwa kekikiran dan kebakhilan mereka adalah lebih baik bagi mereka, akan tetapi sebaliknya, itu adalah sesuatu yang lebih buruk bagi mereka.

Karena dengan kekikiran tersebut, mereka justru menjadikan harta mereka terancam hilang, musnah dicuri, dirampok dan yang lainnya, menimbulkan kemudharatan bagi umat mereka dikarenakan kelalaian mereka terhadap kewajiban mereka berupa solidaritas sosial dan bekerja sama memberantas kemiskinan. Karena kemiskinan membahayakan bagi kehidupan umat seluruhnya dan kehidupan semua umat tergantung kepada adanya sikap rela berkorban dengan jiwa maupun harta.

Perbedaan antara *al-Bukhlu* dan *asy-Syuhhu* adalah, kalau _al-Bukhlu_ adalah tidak mau mengeluarkan apa yang kamu miliki, sedangkan _asy-Syuhhu_ adalah berusaha mendapatkan apa yang tidak kamu miliki. Namun yang benar adalah bahwa _asy-Syuhhu_ sama dengan _al-Bukhlu,_ hanya saja _asy-Syuhhu_ lebih parah dibanding _al-Bukhlu._ Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh *Imam Muslim dari Jabir bin Abdullah* bahwa Rasulullah saw. bersabda:

_"Takutlah kalian kepada perbuatan zhalim, karena kezhaliman akan menjadi kegelapan di atas kegelapan pada hari kiamat. Takutlah kalian kepada sikap kikir karena kikir telah membinasakan orang-orang sebelum kalian sikap kikir mendorong mereka melakukan pertumpahan darah dan melanggar atau menghalalkan hal-hal yang diharamkan."_

2. Ayat, (وَلِلَّهِ مِيرَٰثُ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۗ) menunjukkan bahwa Allah SWT Maha Kekal, kekalnya kekuasaan-Nya, bahwa Allah SWT dari zaman azali dan selamanya tidak butuh kepada seluruh alam. Lalu Allah SWT mewarisi bumi setelah binasanya seluruh makhluk dan lenyapnya apa-apa yang mereka miliki, maka setelah itu berarti hak milik dan harta semuanya tidak ada yang memiliki lagi. Hal ini disamakan dengan sistem hak waris yang biasa berlaku bagi makhluk, namun pada hakikatnya, hal ini bukanlah warisan. Karena ahli waris pada dasarnya adalah orang yang mewarisi sesuatu yang sebelumnya tidak menjadi miliknya, padahal Allah SWT adalah pemilik langit dan bumi beserta isinya. Hal ini sama dengan ayat:

_"sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang-orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kamilah mereka dikembalikan."_ *(Maryam:40)*

Maksud kedua ayat ini adalah bahwa Allah SWT memerintahkan para hamba-Nya untuk berinfak dan jangan bersikap bakhil sebelum mereka mati dan meninggalkan harta miliknya menjadi warisan yang diwarisi oleh Allah SWT dan tidak ada harta yang bermanfaat bagi mereka kecuali apa yang mereka infakkan.

3. Ilmu Allah SWT sangat luas tanpa batas dan meliputi segala sesuatu, Allah SWT mengetahui semua amal perbuatan dan segala sesuatu yang besar maupun yang kecil. Allah SWT mengetahui semua amal perbuatan yang lembut dan samar, bahkan Allah SWT mengetahui rahasia dan apa yang lebih tersembunyi. Lalu Allah SWT akan memberi balasan kepada setiap orang atas apa yang diperbuatnya, memberinya balasan sesuai dengan niatnya, seperti yang dijelaskan oleh hadits yang sangat terkenal, yaitu:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

_"Sesungguhnya semua amal dengan niat dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang diniatinya."_===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login