SURAH ALI 'IMRAN 152 - 155

*ALI 'IMRAN (45)*

*ALI 'IMRAN 152-155*

*FAKTOR-FAKTOR KEKALAHAN DAN TERCERAI BERAINYA KAUM MUSLIMIN PADA PERANG UHUD SETELAH MEREKA DIJANJIKAN PERTOLONGAN*

*SEBAB TURUNNYA AYAT*

*1. Sebab turunnya ayat 152:*
*Muhammad bin Ka'b al-Qurazhi* berkata, "Ketika Rasulullah saw. kembali ke Madinah setelah mengalami apa yang terjadi pada perang Uhud, ada beberapa orang sahabat berkata, 'Apa yang menyebabkan kita bisa mengalami hal seperti ini, padahal Allah SWT telah menjanjikan pertolongan kepada kami?" Lalu Allah SWT menurunkan ayat,  (وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ ٱللَّهُ وَعْدَهُۥٓ) sampai, (مِنكُم مَّن يُرِيدُ ٱلدُّنْيَا) yang dimaksud adalah pasukan pemanah yang mengabaikan instruksi Rasulullah saw. dengan meninggalkan posisi mereka karena tergiur untuk mengumpulkan harta rampasan perang.



*2. Sebab turunnya ayat 154:*
*Ibnu Rahawaih* meriwayatkan dari *Zubair*, ia berkata, "Saya ikut dalam perang Uhud dan saya melihat, ketika rasa takut yang begitu mendalam menyelimuti kami, maka diturunkan kepada kami rasa kantuk sehingga tidak ada seorang pun di antara kami kecuali dagunya menempel di dadanya. Maka sungguh demi Allah, waktu itu saya seperti bermimpi dan mendengar perkataan *Mu'attib bin Qusyair*; "Sekiranya ada bagi kami barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini." Dan saya pun hafal perkataan ini, lalu Allah SWT menurunkan ayat 154 surah Ali 'Imran ini."

Maksud ayat, (مَّا قُتِلْنَا هَـٰهُنَا ۗ) adalah seandainya kami diberi kebebasan memilih, maka kami tidak akan keluar (dari kota Madinah) dan kami pun tidak akan mengalami kekalahan ini. Akan tetapi kami keluar karena terpaksa." Lalu Allah SWT membantah perkataan mereka ini dengan ayat, (قُل لَّوْ كُنتُمْ فِى بُيُوتِكُمْ) Maksudnya, barangsiapa yang ditakdirkan terbunuh, maka ajalnya akan menggiringnya untuk keluar ke sebuah tempat yang telah ditetapkan sebagai tempat di mana ia akan dibunuh. Ia tidak akan bisa diselamatkan oleh keberadaannya di rumah dan tidak ikut berperang. Karena ketetapan Allah SWT pasti berlaku, tidak bisa tidak.

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Manusia pada masa lalu sama dengan manusia pada masa sekarang, mereka hidup di dalam dunia impian dan khayalan. Mereka mengira bahwa pertolongan dan kemenangan adalah hadiah Tuhan yang murni kepada kaum Mukminin tanpa harus mereka barengi dengan menunaikan kewajiban-kewajiban mereka, tanpa dibarengi dengan melakukan hal-hal esensial yang menjadi syarat mutlak ketika ingin berperang melawan musuh. Karena mereka adalah makhluk yang dibebani perintah untuk berjihad dan memikul amanah. Jika mereka berjihad, sabar, tabah dan tegar maka mereka akan dikuatkan dengan pertolongan Tuhan, kemenangan dan keberhasilan pun akan mereka dapatkan.

Allah SWT Maha benar janji-Nya untuk menolong kaum Mukminin selama mereka teguh berada di atas kebenaran dan ketika berada di medan perang, mereka berjihad dengan sungguh-sungguh, sabar, taat dan bersatu. Adapun sikap pengecut, takut, lemah, tercerai berai, perselisihan dan ketamakan kepada dunia adalah sebab kehinaan dan kekalahan.

Allah SWT telah memenuhi janji-Nya kepada kaum Mukminin pada perang Uhud, yaitu ketika memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kemenangan di awal pertempuran ketika personil pembawa bendera kaum musyrik terbunuh beserta tujuh personil lainnya yang berada bersama dengannya. Namun, ketika mereka melanggar perintah dan instruksi Nabi Muhammad saw. untuk tetap berada di posisi di atas bukit ar-Rumaah dan mereka persibukkan dengan masalah harta rampasan perang, maka arah angin pertempuran berbalik dan menjadikan mereka tetimpa musibah yang mengakibatkan banyak di antara mereka yang terluka dan terbunuh serta menyebabkan banyak di antara mereka yang melarikan diri meninggalkan panglima perang mereka, Nabi Muhammad saw.

Arah angin peperangan pun berbalik dari kemenangan menjadi kekalahan. Setelah di awal pertempuran, kaum Muslimin mampu mengendalikan jalannya peperangan dan mampu memukul pihak lawan, maka Allah SWT memalingkan mereka dari musuh (maksudnya kalah dan melarikan diri). *Allah SWT berfirman:*

_"Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka."_ *(Ali 'Imran: 152)*

Hal ini menunjukkan bahwa kemaksiatan adalah ciptaan Allah SWT. Akan tetapi di antara kemurahan dan keramahan Allah SWT terhadap para hamba-Nya yang melakukan kesalahan kali ini adalah Dia mengampuni mereka atas kesalahan mereka ini dan tidak membinasakan mereka karena kesalahan dan pelanggaran yang dilakukan. Allah SWT memiliki karunia yang tetap yang dilimpahkan-Nya kepada kaum Mukminin berupa pengampunan. *Ibnu Abbas r.a.* berkata, "Nabi Muhammad saw belum pernah diberi sebuah pertolongan seperti pertolongan yang diberikan kepada beliau pada perang Uhud". Lalu para sahabat mengingkari ucapan Ibnu Abbas r.a. ini, lalu ia berkata kepada mereka,'Antara saya dan orang yang tidak setuju dengan perkataanku ini ada Al-Qur'an yang akan memutuskan apakah saya yang benar atau mereka. Sesungguhnya Allah SWT telah menurunkan *firman-Nya* pada perang Uhud,

_"Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kalian, ketika kalian membunuh mereka dengan izin-Nya."_ *(Ali 'Imran: 152)*

Sikap melarikan diri kaum Muslimin pada perang Uhud adalah sesuatu yang tidak bisa diterima. Karena panglima tertinggi mereka, Nabi Muhammad saw. tetap bertahan di jantung pertempuran menghadapi musuh dan memanggil-manggil pasukan yang melarikan diri agar mereka kembali dan melakukan penyerangan. Namun, ketika mereka tidak mematuhi panggilan Nabi Muhammad saw tersebut, maka Allah SWT menimpakan kepada mereka kesedihan berupa banyaknya korban di pihak mereka, baik korban luka maupun terbunuh serta gagal mendapatkan harta rampasan perang. Hal ini dikarenakan kesusahan dan kesedihan yang menyelimuti hati Nabi Muhammad saw. akibat sikap mereka yang tidak patuh kepada beliau. _Al-Ghammu_ (kesedihan) di dalam ayat ini disebut sebagai _ats-Tsawaab_ (balasan) seperti halnya balasan dosa disebut dengan _adz-Dzanbu_ (dosa). Akan tetapi berkat karunia dan rahmat Allah SWT terhadap kaum Mukminin setelah mereka ditimpa kesedihan di atas kesedihan ini, selanjutnya Allah SWT menurunkan rasa kantuk atau tidur kepada mereka agar mereka bisa merasa aman dan tenteram, mereka bisa memperbarui semangat dan tekad mereka serta agar jiwa mereka bisa merasa lega setelah mereka tertimpa musibah kekalahan ini.

Sementara itu, orang-orang munafik tetap di dalam kecemasan, ketakutan dan kekhawatiran yang terus menyelimuti mereka, mereka tidak bisa tidur dan tidak pula merasakan aman dan tenteram. Mereka berkata, 'Apakah bagi kami barang sesuatu (hal campur tangan) dalam perkara ini?" Mereka bertanya seperti ini, namun sebenarnya yang mereka maksud adalah pengingkaran. Jadi sebenarnya mereka ingin mengatakan, "Tidak ada bagi kami barang sesuatu (hal campur tangan) di dalam keputusan untuk keluar pergi berperang. Akan tetapi kami keluar tidak lain karena terpaksa." Hal ini berdasarkan perkataan mereka juga, yaitu, ".Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini".

*Zubair* berkata, "Pada hari itu, diturunkan kepada kami rasa kantuk dan tidur. Dan sungguh ketika mengantuk, saya seperti bermimpi mendengar perkataan *Mu'attib bin Qusyair*; "Seandainya kami memiliki barang sesuatu (hal campur tangan) dalam perkara ini, maka tentunya kami tidak dibunuh dan dikalahkan di sini." Dikatakan bahwa maksud perkataan *Mu'attib bin Qusyair* ini adalah, "Tidak ada bagi kami barang sesuatu dari kemenangan yang dijanjikan Muhammad kepada kami."

Lalu Allah SWT membantah mereka, "sesungguhnya perkara itu seluruhnya ada di tangan Allah SWT." Yang dimaksud perkara itu di dalam ayat ini adalah, pertolongan dan kemenangan. Jadi maksudnya adalah bahwa sesungguhnya pertolongan dan kemenangan berada di tangan Allah SWT. Dia menolong siapa saja yang dikehendaki-Nya dan menghinakan (tidak menolong) siapa saja yang dikehendaki-Nya. Ajal dan umur semuanya berada di tangan Allah SWT. Tidak ada seorang pun yang mati kecuali ia mati sesuai dengan ajalnya, baik di tengah-tengah medan pertempuran maupun di dalam rumah, di tempat tidur, di dalam kamar dan di tengah taman.

Begitulah, setelah perang Uhud berakhir; orang-orang terbagi menjadi dua kelompok:

1. *Kelompok pertama,* orang-orang yang mengingat apa yang telah menimpa mereka, lalu mereka sadar bahwa hal itu akibat kesalahan dan keteledoran sebagian dari mereka. Mereka ingat janji Allah SWT untuk menolong mereka, lalu mereka meminta ampunan atas dosa-dosa mereka, lalu Allah SWT pun menurunkan rasa aman dan tenteram kepada mereka.

2. *Kelompok kedua*, orang-orang yang diselimuti oleh ketakutan dan kecemasan, sehingga mereka lupa terhadap segala hal yang lain. Hal ini dikarenakan mereka tidak percaya kepada janji Allah SWT dan tidak beriman kepada Rasulullah saw. Adapun sebab kekalahan kaum Muslimin pada perang Uhud adalah dikarenakan pengaruh, bisikan dan penyesatan setan serta akibat dosa-dosa yang pernah mereka perbuat. Ketika mereka diingatkan kembali kepada dosa-dosa lalu mereka, maka mereka tidak ingin tetap bertahan di medan pertempuran agar mereka tidak terbunuh. Akan tetapi Allah SWT dengan kemurahan dan rahmat-Nya mengampuni dosa-dosa mereka dan tidak langsung menimpakan hukuman kepada mereka.

*Al-Qurthubi* berkata, "Padanan ayat ini adalah ayat yang menjelaskan tentang pengampunan Allah SWT terhadap Adam a.s. dan hadits:

_"Lalu, Adam pun mengalahkan Musa dengan argumentasinya."_

Ceritanya adalah Nabi Musa a.s. mengajak debat Nabi Adam a.s. dan ingin mencelanya karena ia telah menyebabkan dirinya dan anak turunnya dikeluarkan dari surga disebabkan dosa memakan _asy-Syajarah_ yang dilakukannya. Lalu Nabi Adam a.s. berkata kepada Nabi Musa a.s., 'Apakah kamu mencelaku atas apa yang sebenarnya telah ditakdirkan Allah SWT atas diriku 40 tahun sebelum saya diciptakan? Namun Allah SWT telah mengampuniku atas dosa tersebut, dan barangsiapa yang telah diampuni, maka berarti ia sudah tidak menanggung dosa dan barangsiapa yang sudah tidak menanggung dosa, maka ia tidak bisa dicela dan dipersalahkan." Begitu juga halnya dengan orang yang telah diampuni dosanya oleh Allah SWT. Hal ini tidak lain karena Allah SWT telah memberitahukan hal tersebut dan pemberitahuan Allah SWT pasti benar. Begitu juga halnya dengan orang-orang yang melakukan dosa dan mau bertobat, mengharap rahmat Allah SWT dan takut kepada siksa-Nya. Mereka selalu diliputi perasaan takut, was-was dan khawatir jika tobat mereka tidak diterima. Dan jika tobat mereka diterima, maka justru perasaan takut, was-was dan khawatir yang mereka rasakan lebih besar; karena mereka tidak tahu apakah pertobatan mereka diterima atau tidak.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login