SURAH ALI 'IMRAN 130-136 BAGIAN 1

ALI 'IMRAN (40)

ALI 'IMRAN 130-136

PERINTAH BAGI KAUM MUKMININ UNTUK MENGERJAKAN KEBAIKAN DAN MENINGGALKAN KEMUNGKARAN SERTA BALASAN BAGI ORANG-ORANG YANG TAAT DAN BALASAN BAGI ORANG-ORANG YANG MELAKUKAN KEMAKSIATAN

[Bagian 1/2]

SEBAB TURUNNYA AYAT

*1. Sebab turunnya ayat 130:*
*Al-Faryabi* meriwayatkan dari *Mujahid*, ia berkata, "Mereka melakukan transaksi jual beli tidak secara tunai. Kemudian ketika telah jatuh tempo pembayarannya, maka mereka menambah harta yang harus dibayar dengan mengundur atau memberikan tenggang waktu tempo pembayaranya lagi. Lalu Allah SWT menurunkan ayat ini."

*Al-Faryabi* juga meriwayatkan dari Atha', ia berkata, "Terjadi transaksi utang piutang antara bani Tsaqif dan bani Nadhir. Lalu ketika waktu pembayaran telah jatuh tempo, maka salah satu pihak berkata, "Kami memberi tambahan harta yang harus dibayar dan kalian memberi kami waktu tenggang pembayarannya lagi. Lalu turunlah ayat ini."

*2. Sebab turunnya ayat 135:*
Di dalam riwayat Atha' disebutkan bahwa Ibnu Abbas r.a. berkata,'Ayat ini turun berkenaan dengan Nabhan, seorang penjual kurma yang memiliki julukan al-Kunyah Abu Muqbil. Suatu ketika ada seorang wanita cantik jelita datang kepadanya untuk membeli kurma. Lalu Abu Muqbil mendekap wanita cantik tersebut dan menciumnya. Kemudian ia menyesali perbuatannya tersebut, lalu ia datang menemui Rasulullah saw dan mengadukan hal tersebut kepada beliau. Lalu turunlah ayat ini."

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Ayat 130 sampai dengan ayat 132 menjelaskan tentang pengharaman riba dari empat sisi. *Pertama*, larangan bertransaksi riba, _"laa ta'kulur ribaa."_ (janganlah kalian memakan riba) dan bertakwa kepada Allah SWT di dalam harta riba, maka oleh karena itu, janganlah kalian memakan harta riba. *Kedua,* ancaman siksa neraka bagi orang yang menghalalkan riba dan barangsiapa yang menghalalkan riba, maka berarti ia kafir. *Ketiga,* perintah taat kepada Allah SWT di dalam pengharaman riba dan *keempat* perintah taat kepada Rasul-Nya di dalam apa yang beliau sampaikan kepada manusia berupa pengharaman riba, supaya mereka dirahmati Allah SWT.

*Mujahid* berkata, "Dahulu mereka bertransaksi tidak secara tunai, lalu ketika pembayaran telah jatuh tempo, maka mereka menambah harga yang harus dibayar sebagai ganti penangguhan kembali pembayaran yang ada. Lalu Allah SWT menurunkan ayat ini."

*Al-Qurthubi* berkata, "Alasan kenapa yang disebutkan di dalam ayat ini hanya riba tidak bentuk-bentuk kemaksiatan lainnya adalah karena riba adalah bentuk kemaksiatan yang telah diumumkan oleh Allah SWT untuk memeranginya di dalam ayat,

_"Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu."_ *(Al-Baqarah: 279)*

Memerangi mengandung isyarat membunuh, seolah-olah Allah SWT berfirman, "Jika kalian tidak takut terhadap riba, maka kalian akan kalah dan dibunuh." Oleh karena itu, di sini yang disebutkan secara khusus oleh Allah SWT adalah perintah meninggalkan riba, karena riba adalah sebuah bentuk transaksi yang umum berlaku di antara mereka.

Potongan ayat, _"adh'aafan mudhaa'afatan."_ (secara berlipat ganda) mengandung isyarat begitu keji dan buruknya perbuatan mereka itu. Oleh karena itu, di sini disebutkan secara khusus bentuk riba yang berlipat ganda, karena mereka terus-menerus semakin meningkatkan jumlah yang ada bersamaan dengan berjalannya waktu hinga menjadi bertumpuk-tumpuk dan berlipat ganda.

Ayat, _"wat taqunnaarallatii u'idda lilkaafiriin."_ (dan takutlah kalian kepada siksa neraka yang disediakan untuk orang-orang kafir) menunjukkan bahwa neraka telah ada dan telah diciptakan. Hal ini sebagai bantahan terhadap aliran al-Jahmiyyah. Karena sesuatu yang tidak ada tidak bisa disediakan.

Ayat, _"wasaari'uu ilaa maghfiratin."_ (dan bersegeralah kalian kepada ampunan) mengisyaratkan keharusan bersegera melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan ampunan, yaitu ketataan. Di dalam ayat ini, ampunan didahulukan dari pada surga, karena meninggalkan (perbuatan dosa) didahulukan atas mendapatkan nikmat. Karena seseorang tidak berhak masuk surga kecuali terlebih dahulu ia harus membersihkan dirinya dari dosa-dosa.

Para ulama berbeda pendapat seputar penafsiran ayat, _"wajannatin 'ardhuhas samaawaatu wal ardhu."_ (dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi). Ibnu Abbas r.a. berkata, "Langit dan bumi disatukan dan disambung menjadi satu seperti kain yang dibentangkan dan digabungkan antara bagian yang satu dengan bagian lainnya. Itu adalah ukuran lebar surga, adapun ukuran panjangnya, maka hanya Allah SWT yang mengetahuinya." Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama. Namun ayat ini bukan bermaksud menentukan ukuran pasti lebar surga, akan tetapi hanya bertujuan memberikan sebuah gambaran bahwa surga adalah sesuatu yang paling luas yang pernah kalian lihat. Sedangkan ayat, _"u'iddat lil muttaqiin."_ (yang disediakan dan dipersiapkan untuk orang-orang yang bertakwa) mengisyaratkan bahwa surga telah ada dan telah diciptakan seperti halnya neraka. Ini adalah pendapat mayoritas ulama yang didukung dan dikuatkan oleh hadits tentang perjalan _isra' mi'raj_ dan hadits lainnya yang terdapat di dalam shahih Bukhari, shahih Muslim dan yang lainnya. Hal ini juga dikuatkan oleh hadits riwayat Abu Dzar dari Rasulullah saw.

_"Langit yang tujuh dan bumi yang tujuh di dalam al-Kursi tidak lain hanyalah bagaikan beberapa dirham yang dilemparkan di padang pasir yang luas. Sedangkan al-Kursi di dalam 'Arsy tidak lain hanyalah bagaikan bulatan kecil yang dilemparkan di tengah-tengah padang pasir yang luas."_

Aliran Mu'tazilah berpendapat bahwa surga dan neraka belum diciptakan pada waktu sekarang. Allah SWT baru memulai menciptakan surga dan neraka sesuai dengan kehendak-Nya tatkala Dia melipat langit dan bumi. Karena surga dan neraka adalah tempat menerima balasan pahala dan hukuman, oleh karena itu, surga dan neraka diciptakan di waktu akan memberikan balasan setelah masa _at-Takliif_ (pembebanan kewajiban) usai. Hal ini agar tempat _at-Takliif_ (dunia) dan tempat pemberian balasan tidak sama-sama ada di kehidupan dunia seperti halnya keduanya juga tidak sama-sama ada di akhirat. Jika diperhatikan, maka bisa ditemukan bahwa Allah SWT memerintahkan untuk bersegera kepada amal akhirat di banyak ayat,

_"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu."_ *(Ali 'Imran: 133)*

_"Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu."_ *(Al-Hadid: 21)*

_"Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan."_ *(al-Baqarah: 148)*

_"maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah,_ *(al-Jumu'ah: 9)*

_"dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba."_ *(al-Muthaffifiin: 26)*

Sedangkan di dalam hal berusaha mencari dunia, maka Allah SWT menyebutkannya dengan bahasa yang mengandung isyarat pelan,

_"Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya."_ *(al-Mulk: 15)*

_"dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah."_ *(al-Muzzammill: 20)*.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login