ALI 'IMRAN (5)
ALI 'IMRAN 15-17
SURGA LEBIH BAIK DARI DUNIA DAN KEMEWAHANNYA
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Biasanya, pandangan manusia bersifat pendek, sementara dan temporer. Ia tidak mau memandang jauh ke depan, tidak membandingkan antara sesuatu yang langgeng dan sesuatu yang bersifat sementara. Oleh karena itu, Al-Qur'an merupakan sesuatu paling besar yang membantu akal untuk bisa tetap berpikir dengan baik, benar dan lurus. Sesungguhnya sesuatu yang bersifat langgeng, jauh lebih baik dari pada sesuatu yang akan hilang dengan cepat.
Begitulah, ayat ini dan ayat sebelumnya mengandung sebuah perbandingan yang menjelaskan tentang sesuatu yang lebih baik bagi manusia, untuk menghibur kesedihan yang diakibatkan oleh masalah dunia serta membuat kuat dan tabah jiwa orang-orang yang meninggalkannya.
Ayat ini dan ayat sebelumnya memiliki unsur kemiripan dengan *sabda Rasulullah saw.* berikut:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
_"Wanita dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena kemuliaannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka nikahilah wanita karena agamanya, maka kamu akan beruntung."_
Sesuatu yang lebih baik dari dunia, syahwat-syahwatnya dan semua yang ada di dalamnya adalah surga keabadian beserta kenikmatan-kenikmatan yang murni yang ada di dalamnya, seperti bidadari dan pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Di dalam ayat ini, bidadari diungkapkan dengan menggunakan bahasa para istri yang yang disucikan dan dibersihkan dari aib atau kekurangan-kekurangan yang biasa ditemukan di dalam diri para wanita di dunia, baik kekurangan fisik maupun perilaku. Juga sesuatu yang lebih baik dari dunia dan segala bentuk kenikmatan dan keindahannya adalah mendapatkan keridhaan Allah SWT. Bahkan keridhaan Allah SWT ini adalah kenikmatan akhirat terbesar yang diraih oleh orang-orang yang bertakwa. Ketika para penduduk surga telah masuk ke dalam surga, maka Allah SWT berfirman kepada mereka,'Apakah kalian menginginkan sesuatu (kenikmatan) yang Aku tambahkan kepada kalian?" Lalu mereka berkata, "Ya Tuhan kami, apa sesuatu yang lebih baik dari semua ini?" *Allah SWT berfirman,* _"Keridhaanku, setelah kalian mendapatkannya, maka Aku tidak akan murka kepada kalian."_
Penyebutan nikmat surga dan nikmat berupa keridhaan Allah SWT. mengandung sebuah isyarat bahwa penduduk surga memiliki kelas atau tingkatan, seperti halnya penduduk neraka juga memiliki tingkatan. Di antara penduduk surga ada yang senang dan sudah merasa cukup dengan kenikmatan-kenikmatan duniawi yang bersifat fisik atau materi dan ada pula di antara mereka yang memiliki keinginan jauh lebih besar dari itu, yaitu keinginan bisa dekat kepada Allah, sehingga mereka mengharapkan ridha-Nya dan mengutamakan nikmat berupa keridhaan-Nya di atas segala bentuk kenikmatan lainnya.
Maksud ayat, _"aamannaa,"_ di dalam doa orang-orang yang bertakwa adalah keimanan yang benar yang bisa menimbulkan dampak atau pengaruh terhadap dirinya, berupa meninggalkan kemaksiatan dan mengerjakan amal-amal saleh. Karena iman memiliki tiga unsur yaitu keyakinan, ucapan dan tindakan.
Ayat ini menerangkan secara jelas tentang sifat-sifat orang yang bertakwa, yaitu iman, sabar; benar atau jujur, al-Qunuut (khusyu' dan selalu melanggengkan ketaatan), berinfak di jalan Allah SWT dan istighfar di waktu sahur yaitu menunaikan shalat di akhir waktu malam (shalat tahajud) dan meminta ampunan. Karena orang-orang yang meminta ampunan di waktu sahur adalah orang-orang yang menunaikan shalat dibarengi dengan doa meminta ampunan. Waktu sahur secara khusus disebutkan, karena waktu sahur adalah waktu yang mustajab.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bertanya kepada malaikat Jibril, "Pada bagian dari waktu malam yang mana pintaku didengar?" Lalu malaikat Jibril berkata, "Saya tidak tahu, hanya saja 'arasy bergetar pada waktu sahur."
Yang dimaksud dengan waktu sahur adalah waktu di mana malam mulai pergi hingga terbitnya fajar. Ada yang mengatakan, waktu sahur adalah seperenam malam yang akhir. Namun, yang lebih benar dari ini adalah apa yang diriwayatkan oleh para Imam dari Abu Hurairah r.a. dari *Rasulullah saw. beliau bersabda:*
يَنْزِلُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَمْضِي ثُلُثُ اللَّيْلِ الْأَوَّلُ، فَيَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَنَا الْمَلِكُ، مَنْ ذَا الَّذِي يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ مَنْ ذَا الَّذِي يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ ذَا الَّذِي يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟ فَلَا يَزَالُ كَذَلِكَ حَتَّى يُضِيءَ الْفَجْرُ
_"Allah SWT turun ke langit bumi setiap malam ketika sepertiga malam pertama berlalu, lalu berfirman, "Aku adalah Raja, Aku adalah Raja. Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku perkenankan doanya, siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri, siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka Aku ampuni." Hal ini berlangsung hingga fajar bersinar."_#
(#)- Ini adalah teks hadits milik *Imam Muslim. Imam al-Qurthubi* _menta'wil_ permulaan hadits ini, _"yanzilullaah,"_ bahwa di dalam susunan kata ini ada mudhaaf yang terbuang, yaitu kata malak (malaikat), jadi asalnya adalah, _'yanzilu malaku Rabbinaa."_ Sedangkan *ulama salaf* berpendapat bahwa Allah SWT memang turun, namun turun di sini tentu yang sesuai dan pantas untuk Allah SWT. tanpa menentukan dan menjelaskan tempat dan bentuknya. Dan *pendapat ulama salaf ini lebih Utama*.)
Waktu sahur dijelaskan juga oleh riwayat *Nasa'i dari Abu Hurairah r.a. dan Abu Sa'id* berikut:
_"Sesungguhnya Allah SWT menangguhkan hingga separuh malam pertama berlalu, al-Hadiits."_
Diriwayatkan bahwa dahulu *Abdullah bin Umar r.a.* sering shalat di sebagian waktu malam, kemudian ia berkata, _"Wahai Nafi', apakah waktu sahur telah tiba?" Jika Nafi' menjawab, "Sudah!, maka Abdullah bin Umar langsung memanjatkan doa dan istighfar hingga subuh."_ (HR Ibnu Abi Hatim)
_Istighfar_ adalah meminta ampunan dengan lisan disertai hati yang hadir dan khusyuk. Karena Allah SWT tidak memperkenankan doa orang yang tidak khusyuk Ketika memanjatkannya.===
Tafsir Al Munir
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
