ALI 'IMRAN (2)
ALI 'IMRAN 7 - 9
AL-MUHKAM DAN AL-MUTASYAABIH DI DALAM AL-QUR'AN
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Ayat-ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa ayat-ayat Al-Qur'an adalah ayat-ayat muhkam, hanya sebagian saja yang berupa ayat-ayat mutasyaabih. Ayat ini juga menjelaskan bahwa maksud yang terkandung di dalam ayat-ayat mutasyaabih hanya diketahui oleh Allah SWT dan orang-orang yang mendalam ilmunya. Allah SWT mengajarkan kepada mereka dua doa agar mereka terjaga dan terlindungi dari _az-Zaigh_ (kecondongan kepada kesesatan) di dalam memahami ayat-ayat mutasyaabih, yaitu do'a, (رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ) dan do'a (رَبَّنَآ إِنَّكَ جَامِعُ ٱلنَّاسِ). Adapun orang-orang yang hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat _mutasyaabih_ dan membuat-buat ta'wilnya secara tidak benar untuk menimbulkan fitnah dan kesesatan.
*Beberapa contoh ayat mutasyaabih:*
*Imam Bukhari* meriwayatkan dari *Sa'id bin Jubair*, ia berkata, 'Ada seorang laki-laki berkata kepada Ibnu Abbas r.a., "Saya menemukan di dalam Al-Qur'an beberapa hal yang tampak seperti bertentangan di mata saya." Lalu Ibnu Abbas r.a. berkata,'Apa itu?" Laki-laki tersebut berkata,'*Allah SWT berfirman:*
_"Apabila sangkakala ditiup, maka tidaklah ada lagi pertalian keluarga di antara mereka pada hari itu (hari Kiamat), dan tidak (pula) mereka saling bertanya."_ *(al-Mukminuun: 101 )*
Namun, di dalam ayat lain, *Allah SWT berfirman*:
_"Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan."_ *(ash-Shaaffaat:27)*
Di dalam sebuah ayat, *Allah SWT. berfirman:*
_"Padahal mereka tidak dapat menyembunyikan suatu kejadian apa pun dari Allnh."_ *(an-Nisaa': 42)*
Namun, di dalam ayat lain disebutkan:
_"Kemudian tidaklah ada jawaban bohong mereka, kecuali mengatakan: "Demi Allah, ya Tuhan kami, tidaklah kami mempersekutukan Allah"._ *(al-Anham: 23)*
Di dalam ayat ini, mereka menyembunyikan kekufuran mereka. Di dalam sebuah ayat, *Allah SWT. berfirman:*
_"Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya?. Dia telah meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya (gelap gulita), dan menjadikan siangnya (terang benderang). Dan setelah itu bumi Dia hamparkan."_ *(an-Naazi'aat: 27-30)*
Di dalam ayat ini, dijelaskan bahwa penciptaan langit terjadi sebelum penciptaan bumi. Namun, di dalam ayat lain disebutkan:
_"Katakanlah: "Pantaskah kamu ingkar kepada Tuhan Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan pula sekutu-sekutu bagi-Nya? Itulah Tuhan seluruh alam." Dan dia ciptakan padanya gunung-gunung yang kukuh di atasnya. Dan kemudian Dia berkahi dan Dia tentukan makanan-makanan (bagi penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati."_ *(Fushshilat: 9-11)*
Di dalam ayat ini disebutkan bahwa penciptaan bumi terjadi sebelum penciptaan langit. *Allah SWT berfirman:*
_"Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang)'"Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." "Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."_
Ayat-ayat ini menjelaskan seolah-olah sifat-sifat Allah SWT ini hanya berlangsung pada masa lampau dan sekarang sudah tidak lagi, karena diungkapkan dengan menggunakan _fi'il maadhi_ (kata kerja yang menunjukkan sesuatu yang telah terjadi).
*Ibnu Abbas r.a.* berkata, "Ayat (فَلَآ أَنسَابَ بَيْنَهُمْ) (maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu) adalah pada peniupan sangkakala pertama. Kemudian di hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, maka tidak ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu dan tidak pula mereka saling bertanya. Kemudian pada peniupan sangkakala kedua, sebagian dari mereka menghadap kepada sebagian yang lain dan saling bertanya.
Adapun ayat, (وَٱللَّهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا مُشْرِكِينَ) (Demi Allah Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah) dan (وَلَا يَكْتُمُونَ ٱللَّهَ حَدِيثًۭا) (dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari) Allah sesuatu kejadian pun), maka sesungguhnya Allah SWT mengampuni dosa-dosa orang yang memurnikan keimanannya. Orang-orang musyrik berkata, "Mari kita berkata, "Kami bukanlah orang-orang yang mensekutukan Allah SWT," lalu Allah SWT membungkam mulut mereka dan anggota tubuh merekalah yang berbicara dan menyampaikan amal perbuatan mereka. Ketika itu, maka diketahui bahwa tiada satu pun kejadian dan perkataan yang dapat disembunyikan dari Allah SWT dan ketika itu, orang-orang kafir mengharapkan jika seandainya saja mereka adalah termasuk orang-orang Islam.
Allah SWT menciptakan bumi dalam dua masa, kemudian Allah SWT menuju kepada penciptaan langit, lalu Dia jadikan tujuh langit dalam dua masa, kemudian Dia membentangkan bumi, lalu memancarkan daripadanya mata airnya dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya, menciptakan gunung-gunung, tumbuh-tumbuhan dan bukit-bukit dalam dua masa juga. Inilah yang dimaksud dengan ayat (وَٱلْأَرْضَ بَعْدَ ذَٰلِكَ دَحَىٰهَا) (dan setelah itu, Allah SWT membentangkan bumi). Jadi, bumi diciptakan dalam empat masa sedangkan langit diciptakan dalam dua masa saja.
Adapun tentang firman, (وَٱللَّهُ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌ) (dan Allah SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang), maka maksudnya adalah bahwa sifat-sifat itu adalah yang dikehendaki oleh Allah SWT untuk Dzat-nya, maksudnya Allah SWT masih dan akan selalu Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Karena Allah SWT tidak berkehendak terhadap sesuatu kecuali pasti terlaksana. Jadi, tidak ada pertentangan sama sekali di dalam Al-Qur'an, karena semuanya berasal dari sisi Allah SWT."
Orang-orang yang mengikuti ayat _mutasyaabih_
Orang-orang yang mengikuti ayat-ayat _mutasyaabih_ ada kalanya karena ingin menimbulkan keraguan terhadap Al-Qur'an dan menyesatkan orang-orang awam, seperti yang dilakukan oleh kelompok *Zanadiqah* dan *Qaramithah* 2# yang meragukan kebenaran Al-Qur'an.
2#)- *Kelompok Qaramithah* adalah salah satu kelompok sesat dan para pengikut filosof yang meyakini kenabian Zaratusta, Mazdak dan Mani, mereka menghalalkan hal-hal yang diharamkan oleh agama.
Atau mereka mengikuti ayat-ayat _mutasyaabih_ karena mereka meyakini bahwa yang dimaksud oleh ayat-ayat mutasyaabih adalah sesuai dengan zhahirnya, seperti kelompok _Mujassimah_, sehingga mereka meyakini bahwa Allah SWT memiliki jisim dan berbetuk seperti jasad yang memiliki wajah, mata, tangan, kaki dan jari. Maha suci Allah SWT dari itu semua! Atau mereka mengikuti ayat-ayat _mutasyaabih_ bertujuan untuk menjelaskan ta'wilnya dan menjelaskan makna yang dimaksudkan. Atau ada kalanya dengan sikap terlalu banyak mengemukakan pertanyaan-pertanyaan tentang hakikat makna yang terkandung di dalam ayat-ayat _mutasyaabih_.
Jadi, orang-orang yang mengikuti ayat-ayat _mutasyaabih_ ada *empat macam kelompok*. *Kelompok pertama*, tidak diragukan lagi kekufurannya dan hukuman bagi kelompok pertama ini menurut madzhab Maliki adalah langsung dibunuh tanpa terlebih dahulu diminta untuk bertobat.
Sedangkan *kelompok kedua*, menurut pendapat yang benar adalah bahwa mereka dihukumi kafir; karena tidak ada perbedaan antara mereka dengan para penyembah berhala. Jadi hukum mereka adalah seperti hukum orang murtad, terlebih dahulu mereka diminta untuk bertobat, setelah itu, jika mereka tetap tidak mau bertobat, maka mereka dibunuh.
Adapun *kelompok yang ketiga*, maka para ulama pada dasarnya berselisih seputar boleh tidaknya mena'wilkan ayat-ayat mutasyaabih. Madzhab salaf lebih memilih untuk tidak melakukan pena'wilan, juga mereka menegaskan bahwa tidak mungkin yang dimaksud oleh ayat-ayat mutasyaabih adalah zhahirnya dan mereka mengimani ayat-ayat mutasyaabih seperti apa adanya dan ini adalah pendapat yang lebih utama. Sedangkan madzhab ulama akhir berpendapat untuk menjelaskan ta'wilnya dan diinterpretasikan sesuai dengan bahasa Arab, tetapi tidak dengan memastikan dengan menjelaskan ayat-ayat mutasyaabih secara global. Dikatakan bahwa madzhab salaf lebih selamat sedangkan madzhab khalaf (ulama akhir) a'lam (bisa lebih tahu).
Adapun *kelompok yang keempat*, maka mereka dihukum _ta'zir_ yang berat.===
Tafsir Al Munir
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
