AL-BAQARAH (109)
AL BAQARAH 284
KEPUNYAAN ALLAH-LAH SEGALA APA YANG ADA DI LANGIT DAN APA YANG ADA DI BUMI, ILMU-NYA MELIPUTI SEGALA SESUATU DAN PERHITUNGAN-NYA TERHADAP PARA HAMBA ATAS SEMUA AMAL PERBUATAN DAN NIAT YANG TERSEMBUNYI DI DALAM HATI
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Ayat ini mengandung penakutan dan peringatan yang sangat tegas dan keras akan hisab Tuhan, karena manusia adalah milik Allah SWT. Dia Maha mengetahui segala amal perbuatannya dan akan membuat perhitungan dengannya atas semua amal perbuatan yang dilakukannya, baik yang besar maupun yang kecil. Penakutan dan peringatan yang sangat keras ini selanjutnya bisa memunculkan ketakutan di dalam jiwa, rasa kasihan terhadap jiwa dari ancaman pedihnya siksaan dan sikap memasrahkan perkaranya kepada Allah SWT semata.
*Imam Ahmad dan Imam Muslim* meriwayatkan dari *Abu Hurairah r.a.*, ia berkata:
_"Ketika ayat 284 turun kepada Rasulullah saw. maka hal ini dirasa berat oleh para sahabat, lalu mereka pergi menemui Rasulullah saw. kemudian mereka duduk di atas kedua lutut mereka, lalu berkata, "Wahai Rasulullah, kami telah dibebani perintah untuk menunaikan amal-amal yang kami sanggup untuk melakukannya, yaitu shalat, puasa, jihad dan sedekah. Allah SWT telah menurunkan ayat ini kepadamu dan kami merasa tidak mampu untuk mengerjakannya." Lalu Rasulullah saw. berkata, "Apakah kalian ingin berkata seperti yang dikatakan oleh dua ahli kitab sebelum kalian, "Kami mendengar tetapi tidak menaati." Akan tetapi ucapkanlah, "Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." Lalu merekapun mengucapkan apa yang diajarkan Rasulullah saw. ini kepada mereka. Kemudian ketika mereka telah meyakini ayat ini dan lisan mereka pun telah terbiasa membacanya, maka setelah ayat ini, Allah SWT menurunkan ayat 285. Kemudian setelah mereka mempraktekannya, Allah SWT menaskhnya dengan ayat 286."_
Zhahir ucapan *Abu Hurairah r.a.*, _"nasakhahallaah."_ (lalu Allah SWT menaskh atau menghapusnya) menunjukkan bahwa ayat ini (ayat 284) dinaskh atau dihapus oleh ayat setelahnya, yaitu ayat 286. Berdasarkan hal ini, ada sebagian ulama tafsir 1#) yang memahami bahwa ayat ini (ayat 284) adalah _mansuukh_ (dihapus), karena ayat ini menetapkan hisab atas hal-hal yang hanya bersifat bisikan atau hal-hal yang hanya terbesit di dalam hati. Namun, yang lebih kuat adalah bahwa ayat ini tidak dinaskh, sedangkan yang dimaksud oleh ucapan Abu Hurairah r.a. di dalam hadits di atas _(nasakhahallaah)_ adalah bahwa Allah SWT menghilangkan apa yang membuat para sahabat merasa takut. Ayat 286 bukan ayat naasikhah (yang menghapus) ayat ini, akan tetapi, posisinya dalam hal ini adalah sebagai penjelas. Kandungan ayat 286 ini dikuatkan oleh sebuah hadits yang diriwayatkan di dalam kitab hadits kutubus sittah dari *Abu Hurairah r.a.*, ia berkata, *Rasulullah saw. bersabda:*
_"Sesungguhnya Allah SWT mengampuni untuk umatku apa yang terbesit di dalam hatinya, selama itu tidak diucapkan atau dikerjakan."_
1#)-Mereka adalah, *Imam Ali, Ibnu Umar, Ibnu Mas'ud, Ka'b al-Ahbaar, asy Sya'biy, an Nakha'iy, Muhammad bin Ka'b al-Qurazhiy, 'Ikrimah, Sa'id bin Jubair, Qatadah* dan yang lainnya dari kelompok sahabat dan tabi'in.
*Ibnu Abbas, 'Ikrimah, asy-Sya'bi dan Mujahid* berkata, "Sesungguhnya ayat ini masih tetap dan bersifat khusus, yaitu ayat ini berkaitan dengan masalah persaksian yang telah dilarang untuk disembunyikan oleh Allah SWT kemudian di dalam ayat ini, Allah SWT menjelaskan bahwa orang yang menyembunyikan kesaksiannya dan apa yang
ada di dalam hatinya, maka ia akan dihisab atas hal itu.
Ada beberapa bukti yang memperkuat pendapat yang mengatakan bahwa ayat ini tidak dinaskh atau dihapus, yaitu:
1. Bahwa firman Allah SWT, (يُحَاسِبْكُم بِهِ ٱللَّهُ ۖ) "maka niscaya AIIah SWT akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu" adalah berbentuk berita, dan menurut ulama ushul fiqih, _al-Akhbaar_ (ayat-ayat yang berbentuk berita) tidak boleh dinaskh (dihapus).
2. Sesungguhnya perbuatan hati seperti yang dijelaskan oleh Al-Qur'an, hadits, ijma' dan qias dicatat dan akan diberi balasan, baik dampak atau indikasi amal perbuatan hati tersebut tampak pada anggota tubuh luar maupun tidah seperti firman Allah SWT: _"Allah tidak menghukum kamu karena sumpahmu yang tidak kamu sengaja, tetapi Allah menghukum kamu karena niat yang terkandung dalam hatimu."_ *(al-Baqarah: 225)*
_"Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semuanya itu akan diminta pertanggungan-jawabnya."_ *(al-Israa' : 36)*
3. Sesungguhnya bisikan-bisikan hati yang tidak sampai pada derajat maksud dan keinginan yang kuat tidak masuk ke dalam kandungan pemahaman ayat, seperti yang dijelaskan oleh para ulama.
4. Sesungguhnya memerintahkan sesuatu diluar batas kemampuan, bertentangan dengan hikmah Tuhan.
5. Makna _an-Naskhu_, yaitu mengubah suatu hukum, tidak tepat jika dikaitkan dengan perubahan maslahat orang-orang mukallaf. Karena apa yang ada di dalam jiwa tidak mengalami perubahan dan tidak terdapat perbedaan karena perbedaandan perubahan kondisi dan waktu.
Adapun pendapat beberapa sahabat dan tabi'in yang mengatakan adanya an-Naskhu dalam ayat ini, maka hal ini sesuai dengan tingginya tingkat keberagamaan dan kesempurnaan iman mereka, sehingga mereka melihat bahwa bisikan-bisikan tidak baik yang muncul di dalam hati termasuk amal yang akan dihisab. Hal ini dikarenakan mereka ingin mensucikan diri dari segala bentuk indikasi dan pengaruh perbuatan dosa. Oleh karena itu, dikatakan bahwa kebaikan-kebaikan orang saleh merupakan kejelekan orang terdekat kepada Allah SWT. Jadi, perasaan susah dan merasa berdosa yang dirasakan oleh mereka ketika di dalam hati mereka muncul bisikan-bisikan tidak baik termasuk kategori kesempurnaan pensucian diri dan pengakuan akan keteledoran dan kelemahan mereka.===
Tafsir Al Munir
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
