AL-BAQARAH (62)
AL BAQARAH 204 - 207
*MANUSIA TERBAGI MENJADI DUA JENIS: ORANG MUNAFIK DAN ORANG YANG IKHLAS*
وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يُعْجِبُكَ قَوْلُهُۥ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَيُشْهِدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا فِى قَلْبِهِۦ وَهُوَ أَلَدُّ ٱلْخِصَامِ ٢٠٤
وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِى ٱلْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ ٱلْحَرْثَ وَٱلنَّسْلَ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلْفَسَادَ ٢٠٥
وَإِذَا قِيلَ لَهُ ٱتَّقِ ٱللَّهَ أَخَذَتْهُ ٱلْعِزَّةُ بِٱلْإِثْمِ ۚ فَحَسْبُهُۥ جَهَنَّمُ ۚ وَلَبِئْسَ ٱلْمِهَادُ ٢٠٦
وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْرِى نَفْسَهُ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ رَءُوفٌۢ بِٱلْعِبَادِ ٢٠٧
*Artinya:*
*204:* _Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras._
*205:* _Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan_
*206:* _Dan apabila dikatakan kepadanya, "Bertakwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) Neraka Jahanam. Dan sungguh Neraka Jahanam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya._
*207:* _Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya._
*SEBAB TURUNNYA AYAT*
Tentang turunnya ayat 204-206, *Ibnu Jarir* meriwayatkan dari *as-Suddi* bahwa *al-Akhnas bin Syuraiq ats-Tsaqafi* #) mendatangi Nabi saw. dan mengaku masuk Islam. Setelah pergi, ia melewati ladang dan sejumlah keledai milik orang-orang Islam, lalu ia membakar ladang itu dan membunuh keledai. Maka Allah menurunkan ayat ini.
#) - Namanya Ubay, sedang al-Akhnas adalah julukannya. Ia dijuluki demikian karena pada waktu perang Badar ia menarik mundur 300 orang sekutunya - Bani Zuhrah sehingga mereka tidak ikut memerangi Rasulullah saw. Ubay pandai berbicara dan berpenampilan menarik.
Sementara itu, sebagaimana diriwayatkan oleh *al-Harits bin Abi Usamah* dalam Musnad-nya dan *Ibnu Abi Hatim, Sa'id ibnul Musalyab* berkata: Ketika *Shuhaib ar-Rumi* berangkat hijrah ke Madinah, ia dikejar oleh beberapa orang Quraisy, maka ia turun dari kendaraannya lalu memasang anak panah. Ia berseru, "Wahai orang-orang Quraisy, kalian tahu bahwa bidikanku sangat jitu. Demi Allah, kalian tidak akan sanggup menangkapku sebelum kubidikkan semua anak panah yang kubawa kemudian aku melawan dengan pedangku hingga aku kehabisan senjata, setelah itu lakukanlah apa pun yang kalian mau terhadapku. Tapi kalau kalian sudi melepaskanku, akan kutunjukkan kepada kalian tempat harta bendaku di Mekah." Mereka berkata, "Baiklah." Setibanya Shuhaib di Madinah, Nabi saw. bersabda kepadanya, "Transaksimu itu sungguh menguntungkan, wahai Abu Yahya." Dan turunlah ayat: _"Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya."_
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Para ulama *madzhab Maliki* berkata: Ayat ini menunjukkan bahwa kita diperintahkan supaya berhati-hati dalam urusan-urusan agama dan dunia bahwa para saksi dan hakim harus diperiksa keadaannya, dan bahwa hakim tidak boleh mengambil putusan berdasarkan lahiriah keadaan manusia serta keimanan dan kebaikannya yang terlihat mata, melainkan ia harus memeriksa batinnya lebih dulu, sebab Allah Ta' ala menjelaskan berbagai keadaan manusia dan menyatakan bahwa di antara mereka ada yang memperlihatkan perkataan yang bagus sementara hatinya meniatkan sesuatu yang keji.
Adapun sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh jamaah dari Ummu Salamah _"Maka aku mengambil putusan sesuai dengan keterangan yang kudengar"_ adalah terjadi pada awal masa Islam, yang mana pada saat itu kondisi lahiriah cukup untuk menjadi bukti karena keadaan masyarakat masih amat bersih. Adapun setelah kerusakan merajalela pemeriksaan keadaan batin menjadi suatu keniscayaan.
Yang benar sebagaimana kata *al-Qurthubi*, kondisi lahiriah bisa menjadi patokan bagi hakim dalam mengambil putusan kecuali jika terbukti ketidakbenaran keadaan lahiriah itu. Dalam *Shahih Bukhari* disebutkan bahwa *Umar ibnul Khaththab r.a.* pernah berkata, "Wahai manusia sekalian, wahyu telah berhenti turun, dan sekarang kami mengambil putusan sesuai dengan amal kalian yang tampak oleh kami. Barangsiapa yang menampilkan dirinya baik di hadapan kami, maka kami akan memberinya keamanan dan mendekatkannya kepada kami, sementara kami tidak peduli dengan isi hatinya Allahlah yang akan membuat perhitungan atas isi hatinya. Dan barangsiapa menampakkan dirinya buruk di hadapan kami, kami tidak akan memberinya keamanan dan tidak mempercayainya meskipun ia berkata bahwa isi hatinya baik.
Ayat ini menunjukkan bahwa kelompok orang-orang munafik itu biasanya mengadakan kerusakan dari dalam. Mereka tidak bertakwa dan tidak takut kepada Allah, maka pantaslah siksa neraka jahanam baginya, dan itu adalah seburuk-buruknya tempat.
Ayat ini juga menunjukkan bahwa orang yang mengikhlaskan amalnya karena Allah dan orang yang berjihad di jalan Allah mendapatkan keridaan dan rahmat Allah serta memperoleh surga keabadian. *Allah Ta'ala berfirman:*
_"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, InjiL dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung."_ *(at-Taubah: 111)*
Kelompok pertama ada dalam setiap umat. Adakalanya seseorang mengelabui satu atau beberapa individu, tapi adakalanya pula memperdaya umat secara keseluruhan sehingga menjerumuskan umat tersebut ke jurang keburukan dan adzab. Golongan seperti ini kadang mengandalkan sumpah-sumpah palsu. Ia bersumpah dengan nama Allah bahwa isi hatinya sama dengan apa yang ia katakan atau klaim. Sama dengan bersumpah kalau seseorang berkata begini: 'Allah tahu atau bersaksi bahwa aku menyukai ini". Para ulama berkata: Kalimat ini lebih kuat daripada sumpah. Sebagian fuqaha berpendapat bahwa barangsiapa mengucapkannya secara dusta maka ia terhitung murtad sebab ia menisbatkan ketidaktahuan kepada Allah Ta'ala. Terlepas dari hal ini, sekurang-kurangnya kalimat tersebut menunjukkan tiadanya perhatian akan agama, meskipun orang itu tidak bermaksud menisbatkan ketidaktahuan kepada Allah Ta'ala. Jadi, itu adalah ucapan yang hanya keluar dari mulut orang-orang munafik yang _"Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu dirinya sendiri tanpa mereka sadari."_ *(al-Baqarah: 9)*
Ungkapan Al-Qur'an yang ringkas (وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْرِى نَفْسَهُ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ ۗ) menunjukkan sebuah kenyataan yang pasti, yaitu bahwa adanya golongan orang-orang yang ikhlas di tengah masyarakat merupakan rahmat yang menyeluruh bagi semua manusia, bukan terbatas pada masyarakat itu semata, sebab seringkali manusia mendapat manfaat dari amal orang-orang yang mengadakan perbaikan sebelum mereka, di mana hasil perbaikan mereka itu baru terlihat setelah zaman mereka berlalu. Orang yang mencurahkan dirinya demi kemanfaatan manusia karena mengharap keridaan Allah Ta'ala tidak boleh bertindak sembrono dan menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan. Ia harus bertindak bijaksana, mesti memperhitungkan segala sesuatunya secara matang sebab maksud dari pembelian ini _"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin..,"_ *(at-Taubah: 111)* bukanlah penghinaan ataupun penistaan diri, melainkan maksudnya adalah menolak kejahatan dan mengerjakan kebaikan yang umum, sebagai bentuk belas kasihan kepada sesama manusia dan demi kemaslahatan umum.
Meskipun ayat _"Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras"_ turun sehubungan dengan al-Akhnas, hal ini tidak membuat ayat ini berlaku khusus bagi dirinya saja, melainkan ia berlaku bagi semua orang yang memiliki sifat dan ciri yang sepertinya, karena _ab-'ibrah lil'umuumillafzhi laa li-khushuushis-sabab_ (yang menjadi patokan adalah keumuman lafal, bukan kekhususan sebab). *Sa'id al-Maqburi* berkata:
Dalam sebagian kitab suci (yang diturunkan sebelum zaman Islam) ada ungkapan begini: "Sebagian manusia punya lidah yang lebih manis daripada madu tapi hatinya lebih pahit ketimbang getah pohon gaharu. Mereka mengelabui manusia dengan mengenakan kulit domba yang halus. Mereka membeli dunia dengan agama. Allah *Ta'ala berfirman:* _'Kalian berani-beraninya lancang kepada-Ku dan lupa diri akan Aku? Demi keagungan-Ku, pasti akan Ku-kirimkan kepada mereka cobaan yang membuat orang yang santun di antara mereka kebingungan."_ Mendengar itu *Muhammad bin Ka'b al-Qurazhi* berkata, "Hal ini pun terdapat di dalam Kitabullah (Al-Qur'an)." Sa'id bertanya, "Dalam ayat yang mana?" Muhammad berkata, "Dalam firman Allah, Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu." Sa'id berkata, 'Aku tahu ayat ini turun tentang siapa." Muhammad bin Ka'b berkata, "Memang benar ayat ini turun sehubungan dengan orang itu, tapi kemudian ia berlaku untuk semua manusia." *Ibnu Katsir* berkata: Perkataan Ibnu Ka'b al-Qurazhi ini bagus dan benar. ====
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
