*AL-ISRAA' (22)*
*BERDOA KEPADA ALLAH DENGAN ASMA’UL HUSNA*
*Surah al-Israa’ Ayat 110-111*
*Sebab Turunnya Ayat:*
*1. Ayat 110*
Diriwayatkan Ibnu Jarir dan Ibnu Mardawaih dari Ibnu Abbas berkata, "Suatu hari Rasulullah saw. shalat dekat ka'bah, dan berdoa kepada Allah SWT dan berkata dalam doanya, "Ya Allah, Ya Rahman" maka orang musyrik berkata, "Lihatlah kepada orang saleh ini [Shabi’]. Ia melarang kami berdoa kepada dua tuhan, tetapi dia berdoa kepada dua tuhan (Allah dan Rahman)" maka Allah menurunkan ayat *(قُلِ ٱدْعُوا۟ ٱللَّهَ أَوِ ٱدْعُوا۟ ٱلرَّحْمَـٰنَ ۖ)*
Maimun bin Mihran berkata, "Di awal-awal turunnya wahyu, ketika menulis surah Rasulullah saw. selalu mengawalinya dengan kata, "Bismikallahumma (dengan nama-Mu ya Allah)." Hingga kemudian turun ayat,
_"Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang,"_ *(an-Naml: 30)*
Beliau mengawali surah yang akan beliau kirim dengan, "Bismillahirrahmaanirrahiim." Lalu orang-orang musyrik Arab berkata, "Ar-Rahiim ini kami tahu, tapi apa itu ar-Rahmaan?" Kemudian Allah SWT menurunkan ayat ini.
Adh-Dhahhak mengatakan bahwa para ahli tafsir berkata, "Dikatakan kepada Rasulullah saw, 'Sesungguhnya, kamu jarang menyebut ar-Rahmaan, padahal Allah banyak menyebut nama ini di dalam Taurat.”' Lalu Allah menurunkan ayat di atas.
= *(وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا)* =
Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan yang lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. tentang firman Allah SWT di atas.
Ibnu Abbas berkata, "Ayat ini turun ketika Rasulullah saw. sedang bersembunyi di Mekah. Saat itu, orang-orang Mekah, ketika mendengar bacaan Al-Qur’an, mereka mencacinya dan mencaci Allah yang telah menurunkannya serta mencaci malaikat yang membawanya kepada Rasulullah saw.. Maka Allah Azza wa Jalla berfirman kepada Nabi-Nya *(ٱلْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ)*, maksudnya, jangan mengeraskan bacaan Al-Qur'an di dalam shalat karena akan didengar oleh orang-orang musyrik lalu mereka pun akan mencaci AlQur'an *(وَلَا تُخَافِتْ بِهَا)* dan jangan pula terlalu merendahkannya dari para sahabatmu, hingga mereka tidak mendengarnya *(وَٱبْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًۭا)* akan tetapi carilah jalan tengah di antara kedua hal itu."
Diriwayatkan bahwa Abu Bakar awalnya selalu melirihkan suaranya ketika bacaan AlQur'an di dalam shalat. Dia berkata tentang alasannya, "Aku berdoa kepada Tuhanku dan dia telah mengetahui kebutuhanku." Sedangkan Umar mengeraskan bacaan shalatnya, dia dia berkata tentang alasannya, "Aku mengusir setan dan membangunkan orang-orang yang tidur." Ketika turun ayat di atas, Rasulullah saw. memerintahkan Abu Bakar untuk sedikit mengeraskan suaranya dan memerintahkan Umar untuk sedikit melirihkan suaranya.
*2. Ayat 111*
Diriwayatkan dari Muhammad bin Ka'b al-Qurazhi, dia berkata, "Orang-orang Yahudi dan Nasrani berkata, "Allah mempunyai anak." Orang-orang Arab berkata,
= *(لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، إِلَّا شَرِيكًا هُوَ لَكَ، تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ)* =
“Kami penuhi panggilanmu, tiada sekutu bagi-Mu kecuali satu sekutu yang Kamu miliki dan Kamu memiliki apa yang dia miliki.” (HR Ibnu Juraij)
Sedangkan orang-orang Shabi' (penyembah bintang] dan Majusi berkata, "Seandainya bukan karena para penolong-Nya pasti Dia telah terhinakan." Maka Allah kemudian menurunkan ayat, *(وَقُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًۭا)* hingga akhir ayat.====
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa berdoa dan berdzikir dapat menggunakan setiap nama dalam Asmaa’ul Husna yang di antaranya adalah Allah dan ar-Rahmaan. Bukan berarti terdapat lebih dari satu tuhan, sebagaimana pemahaman yang salah dari orang-orang musyrik. Akan tetapi, itu merupakan penamaan dengan beberapa nama untuk Zat yang satu.
Doa dan bacaan di dalam shalat menggunakan suara sedang, tidak terlalu keras dan tidak terlalu lirih. Adapun sebab yang mendorong untuk membaca dengan sangat lirih yaitu agar tidak didengar oleh orang-orang musyrik, agar mereka tidak mencela Allah yang telah menurunkannya dan malaikat Jibril yang membawanya, atau karena ketidaksukaan mereka terhadap Al-Qur’an dan ketidakinginan mereka untuk mendengarnya. Kita berusaha untuk selalu mengikuti cara ini, yaitu membacanya dengan suara yang sedang karena mengingat waktu pensyari'atan hukum ini dan kondisi yang menyertainya.
Di dalam ayat ini, Allah SWT menyebut bacaan di dalam shalat dengan kata shalat itu sendiri dan di ayat lain Allah menyebut shalat dengan menggunakan kata _Qur’aan_ (bacaan), yaitu dalam firman-Nya,
_"Dan (laksanakan pula shalat) Shubuh. Sungguh, shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat)."_ *(al-lsraa’: 78)*
Karena antara shalat dan bacaan Al-Qur'an saling terkait karena shalat mencakup bacaan Al-Qur’an, ruku’, dan sujud. Jadi, bacaan Al-Qur’an termasuk dalam bagian shalat. Bagian dari shalat itu digunakan untuk menyebut shalat secara keseluruhan. Dalam bahasa Arab, penggunaan kata yang menunjukkan makna keseluruhan suatu perkara untuk mengungkapkan sebagian darinya, dan sebaliknya, merupakan kebiasaan yang berlaku dalam majaaz. Dan ini banyak digunakan.
Firman Allah SWT *(وَقُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًۭا)*, adalah bantahan terhadap orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Arab yang mengatakan bahwa Uzair, Isa, dan para malaikat adalah keturunan Allah SWT. Karena Allah SWT tidak memiliki orang tua, tidak memiliki istri dan tidak memiliki anak. Dia satu-satunya dan tiada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan dan dalam penghambaan. Dia tidak memiliki penolong yang membela-Nya yang menyelamatkan-Nya dari kehinaan. Dia tidak mencari sekutu dari siapa pun dan tidak juga mencari bantuan dari siapa pun. Dia berhak diagungkan dan dimuliakan dengan sepenuhnya.
Dalam bahasa Arab disebutkan bahwa kata tertinggi yang digunakan orang-orang Arab untuk mengagungkan dan memuliakan Allah ialah _Allahu Akbar_, artinya Dia lebih besar dari segala sesuatu. Rasulullah saw., ketika memulai shalat juga mengucapkan, _"Allahu Akbar."_
Umar bin Khaththab juga berkata, “Ucapan seorang hamba, _"Allahu akbar"_ adalah lebih baik dari dunia dan seisinya."
Ayat *(وَقُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًۭا)* adalah penutup dalam Taurat. Abdullah bin Ka’b r.a. berkata, "Taurat dibuka dengan awal surah al-An'aam dan ditutup dengan akhir surah ini." Di dalam hadits yang diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal r.a., Rasulullah saw. bersabda:
= *(إِنَّهَا آيَةُ الْكَرَامَةِ)* =
_“Ia adalah ayat kemuliaan.”_ Sebagaimana telah saya jelaskan sebelumnya.
Abdul Hamid bin Washil berkata, "Saya mendengar Nabi saw. bersabda, *(مَنْ قَرَأَ وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ...)* "Barangsiapa membaca, “Dan Katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah...' hingga akhir ayat surah ini, maka Allah mencatatkan untuknya pahala yang besarnya seperti bumi dan gunung-gunung. Allah SWT berfirman kepada orang yang mengatakan bahwa Dia memiliki anak.
“Hampir saja langit pecah, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, (karena ucapan itu)." (Maryam: 90)
Dalam sebuah hadits disebutkan, Nabi saw. memerintahkan orang yang menanggung utang membaca *(قُلِ ٱدْعُوا۟ ٱللَّهَ أَوِ ٱدْعُوا۟ ٱلرَّحْمَـٰنَ ۖ)* hingga akhir surah, kemudian mengucapkan.
= *(تَوَكَّلْتُ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ)* =
_"Aku bertawakal kepada Zat yang Hidup yang tidak mati.”_ sebanyak tiga kali.====
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
