Surah al-Israa’ Ayat 40-44

AL-ISRAA' (8)

TEGURAN KERAS TERHADAP PENISBAHAN ANAK DAN SEKUTU KEPADA ALLAH SWT

Surah al-Israa’ Ayat 40-44

FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM

Dari ayat-ayat di atas dapat dipahami beberapa hal berikut.

1. Penisbahan para malaikat sebagai anak-anak perempuan Allah merupakan kedustaan besar dan ucapan yang dosanya sangat hina di sisi Allah Azza wa Jalla. Ini merupakan kecaman keras terhadap perkataan sebagian orang Arab, "Para malaikat ialah anak-anak perempuan Allah."

2. Walaupun terdapat penjelasan memuaskan dari Al-Qur’an tentang argumen dan bukti-bukti yang menunjukkan keesaan Allah secara mutlak serta perintah untuk mengambil pelajaran dari apa yang ada di dalamnya, orang-orang musyrik yang keras kepala dan zalim semakin jauh dari kebenaran, semakin tidak mau berpikir dan tidak mau mengambil pelajaran. Hal ini karena buruk dan rusaknya pikiran mereka serta keyakinan mereka bahwa Al-Qur'an adalah tipu daya, sihir, mantra, dan syair.

3. Seandainya terdapat Tuhan-Tuhan lain, selain Allah, yang memberi bantuan, sebagaimana dikatakan orang-orang musyrik, tentu Tuhan-Tuhan tersebut perlu mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan ibadah dan pengagungan terhadap-Nya agar mereka mendapatkan kemuliaan di sisi Allah dan dekat dengan-Nya karena posisi mereka berada di bawah Allah. Sementara itu, orang-orang musyrik meyakini bahwa berhala-berhala sesembahan dapat mendekatkan mereka kepada Allah. Apabila mereka meyakini bahwa berhala-berhala tersebut membutuhkan Allah SWT, tentu klaim bahwa berhala-berhala tersebut adalah tuhan menjadi batal. Lebih pantas bagi para penyembahnya untuk menyembah Tuhan yang sesungguhnya, yaitu Allah Jalla Jalaaluh.

Ini juga bantahan bagi penyembah berhala, sebagaimana ayat pertama merupakan bantahan terhadap orang-orang yang menjadikan malaikat sebagai putri-putri Allah.

4. Semua makhluk yang ada di langit dan bumi selalu bertasbih dengan memanjatkan pujian kepada Allah SWT. Tasbih manusia dan makhluk-makhluk berakal adalah tasbih yang sesungguhnya, artinya mereka mengucapkan "subhaanallah", untuk menyucikan dan mengagungkan Allah.

Sedangkan tasbih selain manusia bersifat majasi, yaitu _tasbih dilaalah_ (bukti). Artinya, keberadaan makhluk-makhluk tersebut menjadi bukti adanya Tuhan Sang Pencipta. Karena semua makhluk menjadi saksi bagi dirinya sendiri bahwa Allah Azza wa Jalla adalah Sang Pencipta Yang Mahakuasa.

Sebagian ulama mengatakan tasbih para makhluk selain manusia itu hakiki juga sebab secara umum segala sesuatu bertasbih dengan tasbih yang tidak didengar dan tidak dipahami oleh manusia karena di dalam ayat Al-Qur'an disebutkan bahwa tasbih mereka tidak dipahami oleh manusia.

Dalam Sunnah, terdapat hadits yang menerangkan bahwa siksa kubur bagi orang-orang yang telah meninggal dunia diringankan karena pepohonan. Hadits tersebut terdapat di dalam _Shahihain_ *[Shahih Bukhari dan Muslim]* dari Ibnu Abbas, dari Rasulullah saw., tentang disiksanya dua orang di dalam kubur disebabkan keduanya tidak menjaga dirinya dari air kencing dan namimah (mengadu domba).

*Al-Qurthubi* berkata, "Jika siksa kubur mereka diringankan karena pepohonan, bagaimana dengan bacaan Al-Qur'an seorang Mukmin, (tentu lebih dapat meringankan siksanya)."

Pendapat yang benar adalah sampainya pahala yang dihadiahkan kepada mayit. Ini merupakan pendapat empat madzhab.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Nabi saw. bersabda.

_“Ketika ajal menjemput Nabi Nuh a.s., dia berkata kepada kedua anaknya, ‘Aku perintahkan kalian berdua untuk mengucapkan ‘Subhaanallahi wa bihamdihi (Mahasuci Allah dan dengan memanjatkan pujian kepada-Nya)! Karena ila adalah shalat segala sesuatu dan dengannya segala sesuatu diberi rezeki.”_ *(HR Imam Ahmad dan Ibnu Mardawaih)*

*Kesimpulan*, ar-Razi dan sejumlah ulama lainnya berpendapat bahwa tasbih benda-benda mati ialah majasi, maksudnya, tasbih dilaalah, yaitu keberadaan mereka menunjukkan adanya Allah.

Namun, al-Qurthubi dan sejumlah ulama lainnya berpendapat bahwa pendapat yang benar ialah segala sesuatu yang ada di alam ini benar-benar bertasbih, berdasarkan dalil-dalil yang menunjukkan hal tersebut. Seandainya tasbih tersebut sekadar tasbih dilaalah, tiada gunanya pengkhususan Nabi Dawud a.s. yang disebutkan di dalam firman Allah,

_"Bersabarlah atas apa yang mereka katakan; dan ingatlah akan hamba Kami, Dawud yang mempunyai kekuatan; sungguh dia sangat taat (kepada Allah). Sungguh, Kamilah yang menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Dawud) pada waktu petang dan pagi."_ *(Shaad: 17-18)*

Jadi, tasbih tersebut adalah tasbih ucapan dengan diberinya kehidupan dan kemampuan untuk bertasbih. Hadits Nabi saw. juga menyatakan tentang bertasbihnya segala sesuatu, sebagaimana yang ditunjukkan oleh zhahir (makna eksplisit) ayat Al-Qur’an, sehingga mengikuti pendapat ini adalah lebih utama.

Rasulullah saw. bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri,

_“Tidak ada jin, manusia, pohon, batu, tanah kering dan segala sesuatu yang mendengar suara muazin, kecuali menjadi saksi baginya pada hari Kiamat kelak.”_ *(HR Ibnu Majah dan Malik)*

5. Di antara sifat Allah Yang Mahaagung adalah Allah (penyantun) terhadap dosa-dosa hamba-Nya di dunia dan Maha Pengampun bagi kaum Mukminin di akhirat, jika mereka bertobat dan kembali kepada-Nya. Sifat Haliim-Nya adalah tidak segera menghukum kaum musyrikin karena kelalaian, buruknya pikiran, ketidaktahuan cara menyucikan-Nya dan kesyirikan mereka.====

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login