AL-ISRAA' (5)
BALASAN BAGI ORANG YANG MENGINGINKAN DUNIA DAN YANG MENGINGINKAN AKHIRAT
Surah al-Israa’ Ayat 18-21
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Ayat-ayat di atas menunjukkan beberapa hal berikut ini.
1. Terkait dengan amal perbuatan di dunia, manusia dapat diklasifikasikan menjadi dua golongan, yaitu golongan yang menginginkan dunia dan yang menginginkan akhirat. Golongan pertama, Allah memberikan dunia kepada mereka sesuai dengan apa yang Allah kehendaki dan kepada orang yang dikehendaki-Nya. Kemudian Allah akan menghukum mereka karena perbuatannya, mereka pun akan masuk neraka karena mereka tercela akibat buruknya perilaku dan perbuatan mereka. Ini karena mereka lebih memilih kenikmatan fana daripada kenikmatan abadi. Mereka pun akan terusir dan dijauhkan dari rahmat Allah.
*Al-Qurthubi* berkata, ‘Ini adalah sifat orang-orang munafik yang fasik dan sifat orang-orang yang suka pamer dan riya. Mereka menggunakan Islam dan ketaatan sebagai kedok untuk mendapatkan rampasan perang dan keuntungan dunia lainnya sehingga amal mereka tidak diterima di akhirat, dan ketika di dunia mereka pun hanya mendapatkan bagian yang diberikan kepada mereka.
Adapun golongan kedua adalah orang-orang yang menginginkan akhirat dan melakukan ketaatan untuknya, di samping itu mereka juga beriman. Karena, ketaatan tidak akan diterima kecuali dari orang yang beriman.
2. Hikmah dan rahmat Allah menetapkan untuk memberikan rezeki kepada orang-orang Mukmin dan orang-orang kafir. Maka pemberian Allah tidaklah terhalang dari siapa pun. Hanya saja rezeki manusia di dunia berbeda-beda, ada yang banyak dan ada yang sedikit. Perbedaan rezeki tersebut tidak ada kaitannya dengan keimanan dan kekafiran. Sehingga terkadang seorang Mukmin dalam kondisi kaya, sedangkan orang kafir dalam kondisi miskin, demikian juga sebaliknya. Terkadang orang kafir dalam kondisi kaya, sedangkan orang Mukmin dalam kondisi miskin.
Adapun di akhirat, perbedaan derajat antar orang-orang Mukmin jauh lebih besar daripada ketika di dunia. Orang-orang kafir, walaupun di dunia sesekali diberikan kelapangan dan orang Mukmin sesekali mengalami kesempitan, di akhirat, masing-masing mendapatkan bagiannya satu kali sesuai dengan amal perbuatannya. Ketika itu, orang yang tidak mendapatkan sebagian dari kenikmatan akhirat, tidak akan mampu untuk mendapatkannya. Tidak seperti di dunia bahwa kenikmatan dan kesulitan datang silih berganti.
3. Ayat: *(عَجَّلْنَا لَهُۥ فِيهَا مَا نَشَآءُ لِمَن نُّرِيدُ )* adalah pembatas bagi keumuman yang disebutkan di dalam surah Hud, yaitu ayat,
_"Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan."_ *(Hnud: 15)*
Di dalam surah asy-Syuraa:
_"Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat."_ *(asy-Syuraa: 20)*
4. Di dalam ayat tersebut, yaitu firman Allah SWT: *(مَّن كَانَ يُرِيدُ ٱلْعَاجِلَةَ)* terdapat poin penting.
_Pertama_, hukuman adalah kerugian yang disertai dengan penghinaan dan celaan yang abadi.
_Kedua_, kemewahan di dunia tidak seharusnya dijadikan bukti bagi keridhaan Allah SWT. Karena walau kemewahan dunia didapatkan, terkadang akan berakhir dengan keburukan, yaitu mendapatkan adzab dan kehinaan dari Allah. Ini merupakan pengingatan bagi orang-orang bodoh yang terlena dengan kenikmatan dunia yang mereka dapatkan secara melimpah ruah, lalu mereka mengira dengan kenikmatan itu mereka berharap kemuliaan di sisi Allah SWT.
_Ketiga_, firman Allah SWT, menunjukkan bahwa kemewahan di dunia tidak didapatkan oleh semua orang, bahkan banyak orang kafir dan orang sesat mencari dunia namun mereka tetap saja tidak mendapatkannya, di samping juga tidak mendapatkan pahala. Ini adalah peringatan keras bagi mereka karena mereka adalah orang-orang yang paling merugi dan usaha mereka di dunia sia-sia, padahal mereka mengira bahwa mereka telah berbuat baik.
5. Terdapat tiga syarat bagi diterimanya suatu amal perbuatan, yaitu disertai iman yang benar, niat yang baik, dan amal saleh yang diridhai Allah SWT.
6. Sesungguhnya rezeki dan pemberian Allah pasti akan diterima oleh setiap manusia, dengan syarat berusaha dan bekerja. Dan rezeki tidaklah terhalangi dari seorang pun, baik orang Mukmin maupun kafir.
7. Rezeki tidak diberikan dengan kadar dan persentase yang sama bagi semua orang, namun rezeki setiap manusia berbeda-beda. Hal itu tidak terkait dengan keimanan dan kekafiran, tetapi Allah SWT membaginya kepada seluruh makhlukNya sesuai dengan hikmah dan kebaikan.
Perbedaan tingkatan antara orang-orang kafir dan orang-orang fasik di neraka Jahannam, dan perbedaan derajat antara orang-orang Mukmin yang baik dan bertakwa di surga, jauh lebih besar dibandingkan dengan perbedaan derajat mereka ketika di dunia. Surga, misalnya, memiliki seratus derajat. Jarak antara dua derajat adalah seperti antara langit dan bumi.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
