AN-NAHL (9)
GANJARAN ORANG-ORANG MUHAJIRIN, PARA RASUL ADALAH MANUSIA, TUGAS NABI MUHAMMAD SAW. DALAM MENERANGKAN AL-QUR'AN, SERTA ANCAMAN TERHADAP ORANG-ORANG KAFIR
Surah an-Nahl Ayat 41-50
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Ayat-ayat di atas menjelaskan sejumlah hal sebagai berikut.
1. Ganjaran orang-orang Muhajirin yang rela meninggalkan kampung halaman, rumah, tempat tinggal, dan harta benda mereka, tabah dan sabar atas berbagai gangguan, serta bertawakal kepada Tuhan mereka adalah mendapatkan tempat yang lebih utama, kedudukan yang baik, kehidupan yang menyenangkan, rezeki yang baik dan melimpah, kemenangan atas para musuh, menguasai negeri-negeri dan para penduduk. Berkat karunia Allah SWT, semua itu terealisasi dan mereka peroleh. Sungguh, ganjaran akhirat jauh lebih besar untuk diketahui oleh siapa pun sebelum menyaksikannya sendiri.
2. Dalam ayat ini terdapat penegasan tentang keutamaan sikap sabar dan tawakal. Adapun sabar, mengandung semangat menahan dan mengekang diri. Sedangkan tawakal mengandung semangat bersandar sepenuhnya kepada Allah SWT bukan kepada makhluk. Sabar, adalah prinsip awal dalam meniti jalan menuju kepada Allah SWT, sedangkan tawakal adalah ujung jalan tersebut.
3. Ayat *(وَمَآ أَرْسَلْنَا)* menunjukkan bahwa Allah SWT tidak mengutus seorang perempuan dan malaikat sebagai rasul kepada umat manusia. Allah SWT mengutus para malaikat sebagai rasul atau utusan kepada sesama malaikat yang lain dan sebagai pembawa wahyu kepada para nabi, sebagaimana firman *Allah SWT*,
_"Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan)."_ *(Fathir: 1)*
Para rasul yang diutus kepada manusia berasal dari bangsa manusia dan berjenis kelamin laki-laki.
4. Masyarakat awam harus bertanya kepada _ahludz dzikri_ menyangkut hal-hal yang mereka tidak mengetahuinya. _Ahludz dzikri_ adalah ahli ilmu baik ilmuwan tentang berita orang-orang terdahulu, karena orang yang memiliki ilmu tentang sesuatu, ia senantiasa mengingatnya, atau tentang kitab-kitab samawi terdahulu, atau tentang Al-Qur’an. Karena penduduk Mekah mengakui bahwa kaum Yahudi dan Nasrani adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan dan kitab, Allah SWT pun menyuruh penduduk Mekah untuk bertanya kepada Ahli Kitab. Yaitu, menyangkut masalah kemanusiaan para rasul, supaya kaum Ahli Kitab menjelaskan kepada kafir Mekkah tentang kelemahan opini sesat mereka. Kaum Ahli Kitab itulah yang menginformasikan kepada mereka bahwa seluruh nabi adalah manusia.
5. Ayat *( فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ)* dijadikan sebagai dalil oleh orang yang memperbolehkan bagi seorang mujtahid untuk bertaklid kepada sesama mujtahid. Dalam hal ini, ia mengatakan, ketika ada salah seorang mujtahid yang tidak memiliki ilmu tentang suatu pengetahuan, ia harus merujuk kepada mujtahid lain yang memiliki ilmu tentang pengetahuan tersebut. Hal ini berdasarkan ayat *(فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ)*
6. Ayat *(فَسْـَٔلُوٓا۟)* juga dijadikan sebagai dasar oleh pihak-pihak yang menafikan _qiyas_. Mereka mengatakan, seorang _mukallaf_, ketika ia menghadapi suatu persoalan, jika ia mengetahui hukumnya, ia tidak boleh menggunakan _qiyas_. Dan, jika ia tidak mengetahui hukumnya, wajib baginya untuk bertanya kepada orang yang mengetahuinya. Ini berdasarkan zahir ayat di atas. Seandainya _qiyas_ merupakan _hujjah_, tentu tidak wajib baginya bertanya kepada orang yang memiliki ilmu dan pengetahuan tentang hukum persoalan tersebut, karena memungkinkan baginya untuk menggali hukum melalui _qiyas_. Pandangan ini dijawab, penggunaan _qiyas_ sudah tertetapkan berdasarkan ijma para sahabat dan posisi ijma lebih kuat dari dalil yang mereka paparkan.
7. Allah SWT mengutus para rasul terdahulu dengan membawa berbagai _hujjah_, dalil dan bukti-bukti yang memberikan kesaksian atas kebenaran mereka, serta kitab-kitab suci yang memuat syari’at, hukum, dan aturan Tuhan. Allah SWT menurunkan _adz-Dzikr_, yakni Al-Qur’an, kepada Nabi Muhammad saw. supaya beliau menerangkan kepada manusia berupa berbagai hukum, janji, dan ancaman, baik dengan ucapan maupun tindakan. Nabi Muhammad saw. adalah pemberi keterangan rinci apaapa yang diinginkan Allah SWT, seperti hukum-hukum shalat, zakat, dan berbagai tatanan kehidupan lainnya yang dijelaskan di dalam Al-Qur'an secara global.
8. Ayat *(أَفَأَمِنَ ٱلَّذِينَ مَكَرُوا۟ ٱلسَّيِّـَٔاتِ)* berisi ancaman bagi orang-orang musyrik yang melakukan berbagai upaya untuk meruntuhkan pilar-pilar Islam berupa adzab ditenggelamkan ke dalam perut bumi sebagaimana *Qarun*, atau menyergap mereka dengan adzab yang datang secara tiba-tiba sebagaimana yang dialami oleh kaum Luth dan yang lainnya, atau dengan menimpakan adzab kepada mereka ketika berada di perjalanan dan berbagai aktivitas. Mereka tidak akan bisa mengelak dan menghindar. Atau, menimpakan adzab kepada mereka dalam keadaan takut dan tercekam, atau dalam keadaan mengalami penyusutan harta kekayaan, hasil ternak dan pertanian serta kematian hingga akhirnya mereka se mua binasa.
9. Di antara bukti-bukti petunjuk keagungan, kebesaran, kekuasaan Allah SWT adalah sujud (tunduknya) segala apa yang melata di bumi kepada-Nya, begitu juga malaikat yang berada di bumi. Di sini, malaikat disebutkan secara khusus karena kemuliaan kedudukan mereka. Semua benda mati, tumbuhan, hewan, manusia, jin, dan malaikat, mematuhi Allah SWT dan menurut kepada perintah-Nya. Mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri dan angkuh untuk beribadah kepada Tuhan mereka. Mereka takut kepada hukuman dan adzab-Nya yang datang dari atas mereka, karena adzab yang membinasakan adalah turun dari langit. Mereka melaksanakan setiap perintah karena mereka adalah malaikat.
10. Ada sebagian kalangan yang menjadikan ayat ini sebagai landasan dalil bahwa malaikat lebih utama daripada manusia, karena malaikat disebutkan secara khusus. Juga, karena malaikat tidak menyombongkan diri dan angkuh untuk beribadah menyembah Tuhan, dalam hati mereka tidak terdapat sedikit pun rasa takabur dan angkuh. Juga, karena malaikat diciptakan terlebih dahulu sebelum manusia, sedang mereka senantiasa menaati Allah SWT sepanjang masa. Tidak ada suatu apa pun yang lebih tinggi kemuliaan dan keluhurannya di atas malaikat kecuali Allah SWT.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
