SURAH AN-NAHL
MAKKIYYAH, SERATUS DUA PULUH DELAPAN AYAT
PENAMAAN SURAH
Surah ini dinamakan dengan surah an-Nahl (lebah) karena memuat kisah tentang lebah yang diberi _ilham_ (naluri) oleh Allah SWT untuk menyerap sari bunga dan buah-buahan serta memproduksi madu yang mengandung obat bagi manusia. Kisah ini disebutkan dalam ayat 68-69. Ini adalah sebuah kisah yang menakjubkan untuk memerhatikan dan merenungkan berbagai keajaiban ciptaan Allah SWT serta menjadikannya sebagai bukti petunjuk tentang wujud-Nya.
Surah ini juga dinamakan dengan _Surah an-Ni'am_ (nikmat-nikmat) karena banyak menyebutkan berbagai nikmat Allah SWT yang melimpah kepada para hamba.
*KORELASI SURAH INI DENGAN SURAH SEBELUMNYA*
Bagian akhir Surah al-Hijr di atas memiliki korelasi yang sangat erat dengan bagian awal Surah an-Nahl. Firman Allah SWT di bagian akhir Surah al-Hijr (ayat 92), *(فَوَرَبِّكَ لَنَسْـَٔلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ)* _(Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua)_ menegaskan keberadaan hasyr pada hari Kiamat dan proses pertanyaan yang dijalani manusia tentang perbuatan yang pernah mereka lakukan ketika di dunia. Demikian pula halnya dengan ayat 99, *(وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ)* _(dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini, yaitu ajal)_ menunjukkan kematian. Kedua ayat ini memiliki korelasi yang sangat jelas dengan permulaan Surah an-Nahl ini, *(أَتَىٰٓ أَمْرُ ٱللَّهِ)* _(telah pasti datangnya ketetapan Allah)._ Hanya saja, dalam Surah al-Hijr digunakan bentuk _fi'il mudhaari'_, *( يَأْتِيَكَ)*; sementara dalam Surah an-Nahl digunakan bentuk _fi’il maadhi_, *(أَتَىٰٓ)*
Sebagai catatan, bentuk kata kerja yang telah lalu _(fi’il maadhi)_ di sini adalah sesuatu yang datang dan terjadi, meskipun terdapat masa penantian karena waktu kedatangannya sangat dekat dan yakin.
Begitu juga, Surah an-Nahl memiliki korelasi dengan Surah Ibraahiim. Dalam Surah Ibraahiim disebutkan tentang fitnah yang dihadapi oleh si mayit dalam kubur (pertanyaan dua malaikat dalam kubur) berikut apa yang terjadi di sana. Ada orang yang diteguhkan dan disesatkan dalam menjawab pertanyaan tersebut (ayat 27 Surah Ibraahiim). Sedangkan dalam Surah an-Nahl disebutkan tentang kematian berikut apa yang terjadi setelahnya berupa kenikmatan atau adzab (ayat 28-32). Dalam Surah Ibraahiim, Allah SWT juga menuturkan nikmat-nikmat-Nya, kemudian diikuti dengan firman-Nya, *(وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ )* _(dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya)._ Ayat yang sama juga disebutkan dalam Surah an-Nahl (ayat 18) berikut penyebutan berbagai macam nikmat yang beragam.
*KANDUNGAN SURAH*
Surah ini mencakup pembicaraan seputar pokok-pokok akidah, yaitu _uluuhiyyah_ (ketuhanan) dan keesaan, _ba'ts, hasyr_ dan _nusyuur_ (dibangkitkan kembali dan dikumpulkan). Pembicaraan Surah ini diawali dengan penegasan adanya _hasyr_ dan _ba'ts_ serta dekatnya waktu kedatangan Kiamat. Hal ini diungkapkan dengan bentuk _maadhi_ (yang telah lalu) yang menunjukkan kepastian terjadinya. Ini seperti *firman Allah SWT*,
_"Telah semakin dekat kepada manusia perhitungan amal mereka, sedang mereka dalam keadaan lalai (dengan dunia), berpaling (dari akhirat).”_ *(al-Anbiyaa’: 1)*
_"Saat (hari Kiamat) semakin dekat, bulan pun terbelah."_ _(al-Qamar: 1)_
Semua itu menunjukkan bahwa informasi Allah SWT tentang yang telah lalu dan yang akan datang adalah sama karena pasti akan datang dan terjadi.
Kemudian surah ini menegaskan wahyu yang diingkari oleh orang-orang musyrik terkait dengan adanya _ba’ts_, bahwa mereka menantang Rasulullah saw. agar adzab yang beliau ancamkan kepada mereka disegerakan kedatangannya.
Kemudian, dilanjutkan dengan pembicaraan tentang bukti-bukti kekuasaan Ilahi di jagad raya ini yang membuktikan keesaan Allah SWT dengan penciptaan langit dan bumi berikut segala apa yang ada pada keduanya seperti planet-planet dan bintang-bintang, gunung-gunung dan lautan, dataran-dataran, dan lembah-lembah, air dan sungai-sungai, flora dan fauna, ikan-ikan, mutiara dan batu-batu mulia, kapal-kapal yang berlayar di lautan, angin lawaaqih (yang membawa awan dan membantu penyerbukan) dan angin yang menjadi tenaga penggerak kapal dalam berlayar. Surah ini juga mengajak manusia untuk memerhatikan dan merenungkan manfaat-manfaat hujan, binatang ternak, buah-buahan seperti kurma dan anggur, tugas dan aktivitas lebah, penciptaan manusia kemudian mematikannya, perbedaan perolehan rezeki di antara manusia, kemampuan burung untuk terbang, penyediaan fasilitas tempat tinggal dan yang lainnya.
Surah ini juga menjelaskan nikmat-nikmat Allah SWT yang melimpah ruah dan tiada putus, mengingatkan manusia tentang akibat sikap kufur dan tidak mensyukuri nikmatnikmat-Nya. Juga tentang dipersiapkannya pintu-pintu Jahannam bagi orang-orang kafir, sedang mereka kekal di dalamnya, serta dipersiapkannya pintu-pintu surga 'Adn bagi orang-orang yang bertakwa dan berbuat amal baik di dunia. Surah ini juga menjelaskan karunia Allah SWT dengan mengutus para rasul kepada setiap umat, bahwa tugas dan misi para rasul adalah satu, yaitu perintah menyembah hanya kepada Allah SWT dan menjauhi _thaghut_.
Surah ini juga menerangkan misi para nabi pada hari Kiamat, yaitu memberikan kesaksian atas umat-umat yang ada bahwa mereka telah menyampaikan dakwah yang benar yang menyeru kepada agama Allah SWT. Juga tentang bagaimana orang-orang kafir tidak diberi izin berbicara dan semua dalih mereka ditolak.
Kemudian, Allah SWT menyebutkan sebuah ayat yang paling komprehensif dalam Al-Qur’an, _"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan."_ *(an-Nahl: 90)* dan diiringi dengan perintah untuk memenuhi janji dan mematuhi kesepakatan, diharamkannya melanggar janji, menghormati syarat-syarat, dan ketentuanketentuannya serta larangan menjadikan sumpah dalam perjanjian dan pakta sebagai alat untuk menipu dan mencurangi.
Kemudian, Allah SWT memerintahkan untuk memohon perlindungan dari setan yang terkutuk (membaca _ta'awwudz_) ketika hendak membaca Al-Qur’an, menyatakan dengan tegas bahwa setan tidak bisa menguasai orang-orang Mukmin yang bertakwa dan bertawakal kepada Tuhan mereka. Setan hanya bisa menguasai orang-orang musyrik.
Allah SWT menegaskan bahwa Al-Qur’an dibawa oleh *Ruhul Qudus* ke dalam hati Nabi Muhammad saw., karena Al-Qur’an adalah firman Allah SWT, bukan perkataan orang Arab atau pun non-Arab.
Dalam Surah an-Nahl juga disebutkan sejumlah perumpamaan untuk menegaskan tauhid, mementahkan kesyirikan, sekutu, dan sikap kufur terhadap nikmat-nikmat Allah SWT. Juga, penjelasan bahwa tidak berdosa orang yang mengucapkan kata-kata kekafiran karena dipaksa, sedang hatinya tetap teguh dengan keimanan. Juga setiap diri diberi hak membela diri pada Hari Kiamat dan setiap orang diberi balasan atas amal perbuatannya.
Pada bagian akhir surah, setelah pembicaraan tentang binatang ternak, disebutkan penjelasan tentang binatang yang diharamkan Allah SWT. Selain itu, mewanti-wanti para ulama agar jangan memfatwakan haram atau halal tanpa dasar dalil dan membandingkannya dengan sesuatu yang diharamkan Allah SWT atas kaum Yahudi disebabkan kezaliman mereka.
Surah ini ditutup dengan pujian dan sanjungan kepada Nabi Ibrahim a.s. disebabkan keteguhannya pada ketauhidan murni. Di samping itu, juga ada perintah kepada Nabi Muhammad saw. agar mengikuti millah Nabi Ibrahim a.s., kemudian memerintahkan beliau agar berdakwah mengajak kepada Allah SWT dengan hikmah dan nasihat yang baik, memberi balasan secara setimpal tidak melampaui batas. Selain itu, terdapat perintah untuk sabar dalam menghadapi berbagai musibah dan kesedihan, serta mengandalkan pertolongan Allah SWT kepada orang-orang yang bertakwa dan berbuat kebaikan.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
