SURAH AL-BAQARAH 102 - 103 BAGIAN 1

AL-BAQARAH (19)

FIQIH KEHIDUPAN DAN HUKUM-HUKUM
[SURAH AL-BAQARAH 102 - 103]
(Bagian 1)

KAUM YAHUDI MEMPRAKTEKKAN SIHIR, SULAP, DAN MANTERA
 
Sihir, asalnya adalah penyamaran dengan tipu daya dan permainan khayalan. Artinya, tukang sihir melakukan beberapa hal sehingga orang yang disihir membayangkan hal-hal tersebut berbeda dengan kenyataannya, seperti orang yang melihat fatamorgana dari kejauhan sehingga terbayang olehnya bahwa itu adalah air, atau seperti orang yang naik kapal yang melaju dengan kencang sehingga terbayang olehnya bahwa pepohonan dan gunung-gunung yang dilihatnya ikut melaju bersamanya.

Dalam Al-Qur'an, sihir disebutkan di banyak tempat, terutama dalam kisah-kisah Musa dan Fir'aun. Al-Qur'an menyifati sihir itu sebagai tipuan dan permainan mata, sehingga orang yang melihatnya menganggap sesuatu yang tidak nyata sebagai sesuatu yang nyata. Allah Ta'ala berfirman :

"Terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka.” (Thaahaa: 66)

"Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan).” (al-A'raaf: 116)

Malik dan Abu Dawud meriwayatkan dari Buraidah, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda :

"Sesungguhnya sebagian dari kefasihan mengandung daya tarik seperti sihir, sebagian dari pengetahuan merupakan ketidaktahuan, sebagian dari syair mengandung hikmah, dan sebagian perkataan mengandung tanggungan.”

#) Maksud "sebagian dari pengetahuan merupakan ketidaktahuan" adalah orang berilmu yang berusaha sebisanya untuk mengatakan bahwa dirinya tahu tentang sesuatu yang sebetulnya tidak ia ketahui, sehingga akhirnya terbuka kedoknya bahwa ia tidak tahu tentang masalah tersebut. Makna "sebagian dari syair mengandung hikmah" adalah kata-kata bijak dan perumpamaan-perumpamaan yang dijadikan pelajaran oleh orang-orang. Sedang maksud "sebagian perkataan mengandung tanggungan" adalah kau sampaikan perkataanmu kepada orang yang tidak berkepentingan dan tidak ingin mendengarnya (sehingga perkataanmu itu menjadi beban berat baginya).

Maksud kalimat "sebagian dari kefasihan mengandung daya tarik seperti sihir” adalah seseorang yang punya tanggungan hak orang lain dan dia lebih pandai mengemukakan argumen daripada si pemilik hak tersebut sehingga dengan kefasihannya dia 'menyihir masyarakat dan akhirnya menguasai hak orang lain tersebut Perbuatan ini tercela, dan inilah yang dimaksud dengan hadits ini, menurut pendapat yang paling shahih. Adapun sihir yang halal, yang disetujui oleh Nabi saw., adalah seseorang memberitahukan tentang suatu hak: ia menjelaskannya dan menerangkannya dengan keindahan kata-katanya setelah sebelumnya hak itu samar-samar.

Sihir ada yang berupa tipu daya dengan kecepatan tangan (yakni sulap), ada pula yang merupakan teknik dan ilmu tersembunyi yang diketahui oleh sebagian manusia.

Apakah sihir itu nyata atau tidak? Dalam hal ini ada perbedaan pendapat.!?

Jumhur ulama berpendapat bahwa sihir itu nyata, bersamaan dengannya Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dengan sihir itu jiwa manusia mampu memberi pengaruh terhadap dunia anasir, baik tanpa maupun dengan faktor pembantu (misalnya: bintang-bintang di langit). Mereka memandang bahwa jiwa-jiwa penyihir ada tiga peringkat:

Pertama, jiwa yang memberi pengaruh dengan kemauan semata, tanpa alat maupun faktor pembantu.

Kedua, jiwa yang memberi pengaruh dengan dukungan faktor pembantu. Misalnya: kedudukan bintang, atau anasir (yaitu air, hawa, tanah, dan api), atau karakter khusus— bilangan/angka (tiap-tiap huruf abjad punya nomor tertentu).

Ketiga, jiwa yang memberi pengaruh terhadap daya khayal. Caranya, seseorang memilih sebuah daya khayal, mengisinya dengan berbagai macam khayalan dan fantasi, kemudian merefleksikannya ke indra para penonton, dengan kekuatan jiwanya yang mampu memberi efek, sehingga para penonton melihat seakan-akan ada sesuatu yang nyata padahal sebenarnya sesuatu tersebut tidak ada.

Peringkat-peringkat ini dicapai dengan latihan dan dengan menghambakan diri kepada bintang-bintang dan setan-setan dengan bermacam-macam pengagungan dan penyembahan. Oleh sebab itu, perbuatan ini adalah penyembahan kepada selain Allah, dan penyembahan kepada selain Allah adalah bentuk kekafiran. Karena itu, sihir adalah perbuatan kafir.

Adapun kelompok Mur'tazilah dan sebagian ulama Ahlus-Sunnah : berpendapat bahwa sihir itu tidak nyata, ia hanyalah tipuan, penyamaran, dan imajinasi. Dalam arti ini sihir bermacam-macam, antara lain:

a. berbagai imajinasi yang penampilan luarnya berbeda dengan kenyataannya. Contohnya: trik yang dilakukan sebagian pesulap, seperti: memperlihatkan kepada Anda bahwa dia menyembelih seekor burung lalu ia perlihatkan burung itu sekali lagi dan ternyata kali ini burung itu bisa terbang. Hal ini terjadi karena gerakan tangannya sangat cepat: dia sebetulnya membawa dua ekor burung, salah satunya sudah disembelihnya dan kini disembunyikannya, sedang yang kedua adalah burung yang diperlihatkannya.

 Antara lain: Abu Ja'far al-Istirabadi (dari mazhab Syafi'i), Abu Bakar ar-Razi (dari mazhab Hanafi), Ibnu Hazm azh-Zhahiri, dan beberapa ulama lainnya.

Sihir yang dilakukan para tukang sihir Fir'aun termasuk jenis ini. Para sejarawan menuturkan bahwa para tukang sihir Fir'aun memakai air raksa guna membuat tali dan tongkat terlihat seperti ular sehingga terbayang oleh orang-orang yang melihatnya seolah-olah tali dan tongkat tersebut merayap-rayap. Allah Ta'ala berfirman :

"Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka.” (Thaahaa: 66)

Caranya adalah dengan memanaskan air raksa dengan api yang diletakkan di dalam lobang/terowongan sehingga air raksa tersebut memuai karena suhu yang memanas.

b. klaim bahwa dirinya mendapat berita dari jin dan setan (padahal ia bersekongkol dengan sejumlah orang yang telah ia siapkan sebagai pengumpul berita) dan bahwa jin dan setan itu tunduk kepadanya karena sudah dibacakannya mantera. Cara inilah yang dilakukan para peramal Arab di zaman Jahiliah. Dulu mereka menugaskan sejumlah orang untuk mencari tahu rahasia-rahasia orang, sehingga ketika orang-orang yang bersangkutan datang maka peramal ini memberi tahu mereka akan rahasia-rahasia tersebut sehingga mereka percaya bahwa setan memberi tahu si peramal tentang hal-hal yang gaib.

c. melakukan adu domba, fitnah, dan perusakan dengan cara yang lembut dan tersembunyi, untuk mengadu manusia satu sama lain.!”

Ibnu Khaldun memadukan kedua pendapat ini. Pihak yang mengatakan sihir itu nyata memandang kepada dua peringkat pertama, sedangkan pihak yang mengatakan sihir itu tak nyata memandang kepada peringkat ketiga.===

Tafsir Al Munir
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login