Surah Yuunus Ayat 98-100

YUUNUS (36)

Surah Yuunus Ayat 98-100

KISAH YUNUS A.S. BERSAMA KAUMNYA

*Sekilas Sejarah*

Nama *Nabi Yunus a.s*. disebut sebanyak empat kali di dalam Al-Qur’an dengan jelas, yaitu surah *an-Nisaa': 163, al-An'aam: 86, Yunus: 98, dan as-Saffat: 139*. Dan dua kali disebutkan dengan sifatnya saja, yaitu pada surah al-Anbiya: 87 (وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَـٰضِبًۭا فَظَنَّ) _"Dan (ingatlah kisah) Zun Nuun (Yunus) ketika dia pergi dalam keadaan marah"_ dan surah al-Qalam: 48 (فَٱصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ ٱلْحُوتِ إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌۭ) _"Maka bersabarlah engkau (Muhammad] terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah engkau seperti (Yunus) orang yang berada dalam (perut) ikan ketika dia berdoa dengan hati sedih."_

Namanya adalah *Yunus bin Matta*. Ahli kitab berpendapat bahwa namanya adalah *Yunus bin Amitai*. Allah SWT mengutusnya sebagai rasul ke negeri *Ninawa*, yaitu salah satu negeri mati. Akan tetapi mereka mendustainya, sehingga Yunus menjanjikan mereka dengan adzab dalam kurun waktu tertentu. Ada yang mengatakan sampai empat puluh hari. Yunus pun pergi meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah. Setelah kepergian Yunus, mereka takut akan turunnya adzab. Ketika waktu yang ditentukan semakin dekat, langit mendung dan menjadi hitam serta tertutup asap yang tebal, kemudian asap itu turun sehingga menutupi kota mereka, mereka pun berlarian dan mencari-cari Nabi Yunus namun mereka tidak menemuinya. Akhirnya, mereka meyakini kebenaran Nabi Yunus a.s.. Kemudian mereka mengenakan pakaian yang kasar dan memperlihatkannya dengan cara naik ke dataran yang tinggi bersama istri, anak-anak dan binatang ternak mereka. Mereka memisahkan antara ibu dan anaknya sehingga timbul rasa rindu antara mereka dan terdengarlah suara-suara keras dan teriakan kerinduan, mereka pun ikhlas bertobat, menyatakan beriman dan tunduk kepada Allah SWT sehingga Allah memberikan rahmat-Nya dan membuka pintu tobat bagi mereka. Hari itu adalah hari Jum'at bertepatan dengan hari 'Asyuraa' (tanggal 10 bulan Muharram). *Imam Qurthubi* berkata bahwa Kaum Nabi Yunus diberikan kelebihan di antara umat-umat yang lain dengan dibukanya pintu tobat atas mereka setelah melihat adzab. Kebanyakan para _mufassir_ mengatakan hal yang demikian juga. *Az-Zujaj* berkata bahwa mereka tidak terkena adzab. Akan tetapi mereka hanya melihat tanda-tanda akan diturunkan adzab karena jika mereka telah melihat adzab, niscaya tidak akan bermanfaat keimanan mereka.

Adapun kepergian Nabi Yunus dari kaumnya dalam keadaan marah disebabkan kelambatan mereka dalam menerima panggilan dakwah dan beriman dengan apa yang dibawanya. Nabi Yunus pun pergi ke kapal yang penuh muatan tanpa izin dari Allah SWT:

_"Kemudian Allah SWT mengujinya dengan dilemparkan ke dalam laut dan ditelan ikan paus. Allah SWT Berfirman, “Dan (ingatlah kisah) Zun Nuun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap "tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim." Maka Kami kabulkan (doa) nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman."_ *(al-Anbiyaa': 87-88).*

Setelah kurang lebih tiga atau tujuh hari berada di dalam perut ikan paus, Allah SWT mengeluarkannya ke daratan dalam kondisi lemah dan memeliharanya dari alat pencernaan paus. Allah menumbuhkan baginya pohon labu, kemudian Allah mengutusnya kembali kepada seratus ribu orang atau lebih, mereka pun akhirnya beriman kepadanya dan Allah menerima iman mereka.

Adapun firman Allah SWT (فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ) maknanya yang sesuai bagi nabi-nabi yang _ma’shum_ (terpelihara dari kesalahan) adalah Dia (Yunus) menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Artinya, dia menyangka bahwa Kami tidak akan mengharuskannya pergi kembali kepada kaumnya dan dia menyangka bahwa Kami tidak akan melindunginya untuk menyampaikan risalah Allah kepada mereka. Yang dimaksud di sini adalah takwil perintah, yaitu takwil perintah pergi kepada kaumnya. Hal ini merupakan perintah petunjuk bukan perintah wajib, sehingga tidak berdosa jika meninggalkannya. Sebagaimana para ahli fiqih menafsirkan perintah penulisan hutang pada firman Allah, _“Wahai orang-orang yang berimani Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya."_ Perintah di sini adalah perintah nadab dan anjuran, maka bisa dipahami bahwa perkara di atas seperti metode ini.

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Para ulama mengambil kesimpulan dari ayat-ayat ini sebagai berikut.

1. Anjuran untuk beriman dalam kondisi lapang dan luas sebelum adzab datang menghampiri, karena itulah waktu yang tepat dan diterimanya keimanan.

2. Allah SWT mengkhususkan kaum Nabi Yunus di antara umat-umat seluruhnya dengan diterima tobat mereka setelah melihat adzab, sebagaimana juga ath-Thabari mengatakan dari jamaah ahli tafsir. Az-Zujaj berkata, "Sungguh, mereka ketika itu tidak terkena adzab. Mereka hanya melihat tanda-tanda akan diturunkan adzab. Apabila mereka telah melihat adzab yang sebenarnya, niscaya tidak bermanfaat keimanan mereka.”

Terkait perkataan az-Zujaj, Qurthubi berpendapat bahwa perkataan az-Zujaj sangatlah tepat karena melihat adzab dan tidak bermanfaat tobatnya, yaitu apabila memang telah terkena adzab seperti kisah Fir’aun. Oleh karena itu, adanya kisah kaum Nabi Yunus setelah kisah Fir’aun, karena dia (Fir'aun) beriman ketika melihat adzab sehingga tidak bermanfaat lagi keimanannya, sedangkan kaum Nabi Yunus bertobat sebelum adzab itu benarbenar terjadi. Pendapat ini diperkuat oleh riwayat *Imam Ahmad, Turmudzi, Ibnu Majah* dan yang lainnya dari *Ibnu Umar r.a*. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Sungguh, Allah akan menerima tobat seorang hamba selama nafasnya belum di tenggorokan (sekarat)." Yang demikian itu adalah keadaan ketika mendekati kematian, adapun sebelum itu maka tidak.

Maka berdasarkan perkataan az-Zujaj dan Qurthubi tidak ada pengkhususan bagi kaum Nabi Yunus.

3. Ahlus Sunnah berhujjah atas perkataan mereka dengan ayat (وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ) bahwa semua alam semesta berjalan berdasarkan kehendak Allah SWT Karena kata (لَوْ) memberi faedah tidak adanya sesuatu karena tidak ada selainnya. Maka firmanNya (وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَـَٔامَنَ مَن فِى ٱلْأَرْضِ كُلُّهُمْ) memberi pemahaman tentang tidak terjadinya kehendak tersebut dan tidak terjadinya keimanan semua manusia. Maka hal ini menunjukkan bahwa Allah SWT tidak menginginkan iman secara keseluruhan." 

Dalam penjelasan _mufradaat_ telah dibahas dua madzhab yaitu Ahlus Sunnah dan Mu'tazilah pada tafsir ayat apakah yang dimaksud _masyi'ah_ (kehendak) di sini adalah kehendak paksaan dan tekanan atau kehendak ciptaan, petunjuk dan hidayah? Imam Qurthubi menafsirkan ayat ini dengan perkataanya bahwa kalimat (وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ) dan jika Tuhanmu menghendaki niscaya Dia akan memaksa mereka kepadanya (kepada keimanan).

4. Pemaksaan dalam agama adalah dilarang, berdasarkan firman Allah SWT: (أَفَأَنتَ تُكْرِهُ ٱلنَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا۟ مُؤْمِنِينَ) _"Apakah kamu (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman."_ *Ibnu Abbas* berkata bahwa Nabi saw. sangat menginginkan manusia beriman seluruhnya. Namun Allah SWT memberitahukan bahwa tidak beriman kecuali orang yang telah tercatat bahagia pada ketentuan-Nya, dan tidak sesat kecuali orang yang telah tercatat sengsara pada ketentuan-Nya.

5. Ahlus Sunnah behujjah dengan firmanNya (وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَن تُؤْمِنَ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۚ). _"Dan tidak seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah"_ atas perkataan mereka bahwa tidak ada hukum bagi suatu apa pun sebelum datang _syara'_, Dan _wajhul istidlal_ (alasan pengambilan dalil) dengan ayat ini, bahwa kata _al-idznu_ adalah ungkapan dari pembolehan berbuat secara mutlak dan terangkatnya larangan. Ayat ini secara jelas menunjukkan bahwa sebelum ada makna ayat ini, tidak ada seorang pun yang dapat mendahulukan atau menciptakan iman.

6. Ahlus Sunnah juga berhujjah dengan firman-Nya, (وَيَجْعَلُ ٱلرِّجْسَ عَلَى ٱلَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ) _"Dan Allah menimpakan adzab kepada orang yang tidak mengerti."_ atas perkataan mereka bahwa yang menciptakan kekafiran dan keimanan adalah Allah SWT. Sebenarnya, kata _ar-rijsu_ adalah perbuatan yang buruk, baik itu kafir atau maksiat. Namun ketika Allah SWT menyebutkan sebelum ayat ini bahwa iman tidak akan diperoleh kecuali dengan kehendak dan ciptaan Allah SWT, dan Allah menyebutkan setelah ungkapan iman tersebut, bahwa _ar-rijsu_ juga tidak terjadi kecuali dengan ciptaan-Nya. Oleh karena itu, kata _ar-rijsu_ yang merupakan lawan kata _al-imaan_ tidak lain berarti kafir. Ini seperti apa yang dikatakan *ar-Raazi*.

Perlu diperhatikan bahwa kami telah menafsirkan kata _ar-rijsu_ dengan adzab sebagaimana madzhab jumhur _mufassirin_ dan telah ditetapkan oleh *Abu Ali al-Farisi An-Nahwi* bahwa kata _ar-rijsu_ kemungkinan maksudnya adalah adzab.===
 
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login