YUUNUS (19)
Surah Yuunus Ayat 40-44
TERPECAHNYA ORANG-ORANG MUSYRIK MENJADI DUA GOLONGAN DALAM HAL KEIMANAN MEREKA KEPADA AL-QUR'AN DAN NABI SAW.
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
1. Semua orang kafir dan diantara mereka adalah penduduk Mekah pada zaman dahulu: dari antara mereka ada yang beriman kepada Al-Qur'an secara batin, akan tetapi mereka sengaja menampakkan pendustaan mereka dan dari mereka ada yang memang benar-benar tidak beriman. Dan dari antara ada yang beriman di kemudian hari yaitu dengan bertobat dari kekafiran kemudian beriman, dan dari mereka pun ada tetap menolak dan terus dalam kekafiran, sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui semua mereka.
2. Setiap manusia hanya bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan akan mendapatkan balasannya. Jika baik maka dia akan mendapat balasan yang baik pula, dan jika buruk maka dia akan mendapat balasan yang buruk, dan tidak ada satu orang pun yang dibebani dengan dosa orang lain.
3. Sesungguhnya indra itu baik indra pendengaran maupun penglihatan mempunyai dua tujuan: tujuan zahir (nyata) yaitu mendengar hal-hal yang terdengar dan melihat hal-hal yang terlihat, agar kehidupan ini menjadi baik adapun tujuan hakikinya adalah penggunaannya untuk bertadabur tentang yang didengar memahami dan memikirkannya, penggunaan penglihatan dalam urusan agama dan akhlak agar sampai kepada nikmat iman dan hidayah serta kebenaran, terbebas dari kezaliman kekafiran, kesesatan dan kebatilan.
4. Rasulullah saw hanyalah sebatas menyampaikan, memberi peringatan dan kabar gembira, beliau tidak mampu untuk menanamkan keimanan dalam hati, menanamkan hidayah dalam jiwa, dan bagi orang-orang yang berakal hendaklah menjawab penyampaian beliau, mendengarkan nasihat beliau; dan sebagaimana beliau tidak bisa menjadikan seseorang yang telah dihilangkan pendengarannya untuk mendengar; tidak bisa menjadikan orang yang dihilangkan penglihatannya untuk melihat, maka beliau tidak dapat menunjukkan mereka kepada keimanan apabila mereka bersikeras untuk tetap dalam kekafiran.
5. Sesungguhnya pendengaran itu lebih baik daripada penglihatan, dengan dalil setiap kali Allah SWT menyebutkan pendengaran dan penglihatan, Allah SWT lebih sering dan seperti dalam ayat ini mengedepankan pendengaran daripada penglihatan.
6. Ulama Ahlus Sunnah berhujjah dengan ayat ini bahwa perbuatan manusia itu diciptakan oleh Allah SWT; karena hari mereka orang-orang kafir terhadap keimanan bagaikan orang yang tuli mendengarkan pembicaraan, dan bagaikan orang yang buta melihat sesuatu, dan sesungguhnya Allah-lah yang menciptakan kemampuan untuk berhidayah dalam
pendengaran dan penglihatan itu.
7. Sesungguhnya Allah SWT tidak menzalimi orang-orang sesat karena Allah SWT Mahaadil dalam segala pekerjaan-Nya, akan tetapi manusialah yang menzalimi diri mereka sendiri dengan kekafiran dan maksiat serta melanggar perintah-perintah Tuhan Pencipta mereka.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
