SURAH AL-A'RAAF: 163-166

AL-A'RAAF (51)

AL-A'RAAF: 163-166

AKAL LICIK YAHUDI UNTUK MENANGKAP IKAN PADA HARI SABTU DAN SIKSAAN BAGI PARA PENENTANG

Peristiwa Hari Sabtu bagi Kaum Yahudi

Dikisahkan bahwa kaum Yahudi sebenarnya diperintahkan (untuk khusus beribadah) pada hari Jum’at, namun mereka meninggalkan hari itu dan lebih memilih hari Sabtu. Akhirnya, mereka diuji dengan hari Sabtu. Ujian tersebut berupa larangan untuk menangkap ikan dan diperintahkan untuk mengagungkan pada hari tersebut. Ternyata ikan-ikan banyak bermunculan di hari Sabtu. Ikan-ikan tersebut tampak bersih-bersih dan gemuk-gemuk seperti ikan yang sedang hamil. Permukaan air sampai tidak kelihatan karena banyaknya ikan yang mengapung.

Pada hari selain Sabtu, ikan-ikan tidak bermunculan. Kondisi tersebut terjadi selama beberapa masa. Lalu Iblis pun datang menggoda mereka. Ia berkata kepada mereka, "Kalian hanya dilarang untuk menangkapnya di hari Sabtu. Kalian bisa membuat kolam-kolam untuk menggiring ikan-ikan itu masuk ke dalam kolam-kolam tersebut di hari Sabtu, sehingga ikan-ikan itu tidak dapat keluar. Lalu kalian bisa mengambilnya di hari Ahad."

Salah seorang dari mereka mengambil seekor ikan. Lalu ekor ikan itu ia ikatkan dengan sebuah tali pada sebatang kayu di pinggir laut. Pada hari Ahad ia membakar ikan tersebut. Tetangganya mencium bau ikan panggang, lalu ia melihat ke dalam kuali. Tetangganya berkata padanya, "Aku yakin Allah akan menyiksamu."

Ketika ia tidak melihat ada adzab yang turun, hari Sabtu berikutnya ia gunakan dua ekor ikan. Ketika banyak dari mereka tidak melihat ada adzab yang datang, mereka pun mulai menangkap, mengasinkan ikan, dan menjualnya. Jumlah mereka ada sekitar tujuh puluh ribu orang. Akhirnya, masyarakat di daerah tersebut terbagi menjadi tiga: sepertiga melarang hal tersebut, mereka berjumlah sekitar dua belas ribu orang.

Sepertiga lagi berkata, "Untuk apa kalian menegur mereka?" Sepertiga terakhir, mereka yang berbuat kesalahan.

Ketika mereka tidak juga berhenti dari perbuatan tersebut, orang-orang yang Muslim di antara mereka berkata, "Kami tidak mau lagi tinggal berdekatan dengan kalian." Lalu mereka membagi dan memisahkan kampung itu dengan tembok. Untuk pemukiman kaum Muslim ada pintunya dan untuk pemukiman orang-orang yang melanggar itu ada juga pintunya. Mereka yang terakhir ini dikutuk oleh Nabi Dawud a.s..

Pada suatu hari, orang-orang yang melarang perbuatan tersebut duduk-duduk di rumah mereka. Tapi tak seorang pun dari orang-orang yang melanggar menampakkan diri. Mereka berkata, "Pasti ada sesuatu dengan mereka." Mereka pun pergi melihat ke daerah orang-orang yang melanggar itu. Ternyata, orang-orang yang melanggar tersebut sudah berubah menjadi kera.

Mereka (orang-orang yang melarang) membuka pintu daerah orang-orang yang melanggar itu dan masuk ke dalamnya. Orang-orang yang telah berubah menjadi kera itu mengenali kerabat mereka dari kalangan manusia (orang-orang yang melarang). Akan tetapi yang manusia tidak mengenali karib kerabat mereka yang telah berubah menjadi kera. Kemudian, kera-kera itu mendekat ke karib kerabat mereka masing-masing dan mencium pakaiannya sambil menangis. Kerabat yang didekatinya itu berkata, "Bukankah kami telah melarang engkau?" la menganggukan kepalanya. Ada juga yang mengatakan bahwa kaum mudanya berubah menjadi kera sementara kaum tuanya berubah menjadi babi.

*Hasan al-Bashri* berkata, "Mereka memakan makanan yang paling buruk yang dimakan oleh manusia, yang paling hina di dunia, dan yang paling lama adzabnya di akhirat nanti. Oh, demi Allah, ikan yang diambil oleh kaum itu lalu dimakannya tidak lebih besar dosanya di sisi Allah daripada membunuh seorang Muslim. Akan tetapi, Allah telah menjadikan segala sesuatu ada ketentuannya. Dan hari Kiamat lebih dahsyat dan lebih hebat."

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Ayat-ayat tentang kisah ini menjelaskan beberapa hal. _Pertama_, penyampaian kisah ini merupakan bukti kejujuran Nabi saw. karena Allah telah memberitahukan hal-hal tersebut tanpa melalui proses belajar sama sekali. Orang-orang Bani Israil itu pernah mengatakan bahwa Orang Yahudi dan Nasrani berkata,

_“Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.”_ *(al-Maa’idah: 18)*

Karena kami adalah anak cucu dari kekasih Allah yaitu Ibrahim, anak cucu dari Israil (yaitu Nabi Ya'qub), anak cucu dari Musa yang merupakan Kalimullah, dan anak cucu dari Uzair. Jadi kami adalah anak cucu mereka.” Dengan demikian, Allah berfirman kepada Nabi-Nya, "Tanyakan kepada mereka wahai Muhammad tentang kampung tersebut, bukankah Aku telah menyiksa mereka karena dosa-dosa mereka?"

_Kedua,_ penghapusan berbagai akal licik yang berdampak pada berhentinya penerapan syari'at Allah, hancurnya prinsip-prinsip dasar syari'at, dilanggarnya hukum-hukum Allah, dan ditentangnya perintah-perintah-Nya.

_Ketiga,_ ini adalah dalil tentang sadd dzarai’ (menutup celah-celah dilakukannya sesuatu yang dilarang, pent) Artinya semua jalan yang berdampak pada dilakukannya sesuatu yang dilarang adalah haram secara syari'at. Jadi segala sesuatu yang membawa kepada yang haram hukumnya juga haram.

_Keempat,_ diwajibkannya amar ma'ruf dan nahi mungkar serta menjauhi orang-orang yang suka berbuat kerusakan. Orang-orang yang bergaul dengan mereka berarti sama dengan mereka.

_Kelima,_ *firman Allah, (كَذَٰلِكَ نَبْلُوهُم)* menunjukkan bahwa siapa yang menaati Allah, Allah akan meringankan bebannya di dunia dan di akhirat. Siapa yang mendurhakai-Nya, Allah akan mengujinya dengan berbagai bentuk cobaan dan ujian. Ini artinya maksiat itu adalah sebab turunnya kesengsaraan.

_Keenam_, kalangan _Ahlus Sunnah_ menjadikan ayat ini sebagai argumen bahwa tidak wajib terhadap Allah untuk _ri'ayat ashshalah wa al-ashlah_ (memerhatikan sesuatu yang baik dan yang paling baik), baik dalam masalah agama maupun dalam masalah dunia, karena Allah SWT mengetahui bahwa memperbanyak kemunculan ikan di hari Sabtu akan mendorong mereka untuk berbuat maksiat dan berlaku ingkar. Seandainya Allah wajib memerhatikan hal-hal yang bersifat baik dan paling baik, tentu Allah wajib untuk tidak memperbanyak kemunculan Ikan di hari itu guna menjaga mereka dari berlaku ingkar dan berbuat maksiat.

_Ketujuh,_ kelompok yang mendurhakai perintah-perintah Allah dan tidak berhenti mengerjakan kemaksiatan pasti binasa. Sementara itu, kelompok yang mengingkari kemaksiatan serta mengingatkan orang-orang yang berlaku maksiat tentu akan selamat. Adapun kelompok yang diam saja, maka pendapat yang kuat mengatakan ia termasuk orang-orang yang selamat karena ia telah mengingkari kemaksiatan itu dengan hati dan ia sudah putus asa mengharapkan kesadaran orang-orang yang membangkang itu.

_Kedelapan,_ terkadang adzab tidak datang secara tiba-tiba, melainkan secara berangsurangsur. Pertama kali Allah mengadzab Bani Israil dengan kekalahan mereka dari bangsa Babilonia, kemudian dengan kaum Nasrani yang berhasil merampas kekuasaan kaum Bani Israil. Di antara bentuk adzab di dunia adalah diubahnya mereka menjadi kera dan babi disebabkan kemaksiatan yang tidak hentihenti. Kemudian, kelak akan tibalah siksaan akhirat.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login