*SEJUMLAH PENGETAHUAN PENTING YANG BERKAITAN DENGAN AL-QUR'AN*
*A. DEFINISI AL-QUR'AN, CARA TURUNNYA, DAN CARA PENGUMPULANNYA (4)*
*Kompilasi ketiga: pada masa Utsman, dengan menulis sejumlah mushaf dengan khath yang sama*
Peran Utsman bin Affan r.a. terbatas pada penulisan enam naskah mushaf yang memiliki satu harf (cara baca), yang kemudian ia sebarkan ke beberapa kota Islam. Tiga buah di antaranya ia kirimkan ke Kufah, Damaskus, dan Basrah. Yang dua lagi ia kirimkan ke Mekah dan Bahrain, atau ke Mesir dan Jazirah, dan ia menyisakan satu mushaf untuk dirinya di Madinah. Ia menginstruksikan agar mushaf-mushaf lain yang berbeda, yang ada di Irak dan Syam saja, dibakar. Mushaf Syam dulu tersimpan di masjid raya Damaskus: al-Jaami' al-Umawiy, tepatnya di sudut sebelah timur maqshuurah 7#, Ibnu Katsir pernah melihat mushaf ini (sebagaimana ia tuturkan dalam bukunya Fadhaa'ilul Qur'aan di bagian akhir tafsirnya) tetapi kemudian ia hangus dalam kebakaran besar yang menimpa Masjid Umawiy pada tahun 1310 H. Sebelum ia terbakar, para ulama besar Damaskus kontemporer pun telah melihatnya.
=========
7# Maqshuurah adalah sebuah ruangan yang dibangun di dalam masjid dan dikhususkan untuk tempat shalatnya khalifah serta tamu-tamunya. (Penj.)
=========
Sebab musabab pengumpulan ini terungkap dari riwayat yang disampaikan oleh Imam Bukhari kepada kita dalam Fadhaa'ilul Qur'aan, dalam juz keenam, dari Anas bin Malik r.a. bahwa Hudzaifah ibnul-Yaman datang menghadap Utsman seraya menceritakan bahwa ketika ia sedang mengikuti peperangan bersama orang-orang Syam dan orang-orang Irak untuk menaklukkan Armenia dan Azerbaijan, ia terkejut dengan perbedaan mereka dalam membaca Al-Qur'an. Hudzaifah berkata kepada Utsman, "Wahai Amirul Mukminin, selamatkanlah umat ini sebelum mereka berselisih mengenai Al-Qur'an seperti perselisihan kaum Yahudi dan Nasrani!” Maka Utsman mengirim pesan kepada Hafshah, "Kirimkan lembaran-lembaran catatan Al-Qur'an kepada kami karena kami akan menyalinnya ke dalam mushaf. Nanti kami kembalikan lembaran-lembaran itu kepadamu" Setelah Hafshah mengirimkannya, Utsman memerintahkan Zaid bin Tsabit, Abdullah ibnuz-Zubair, Sa'id ibn-'Ash, dan Abdurrahman ibn-Harits bin Hisyam untuk menyalinnya ke dalam beberapa mushaf. Utsman berpesan kepada ketiga orang Quraisy dalam kelompok itu, "Kalau kalian berbeda pendapat dengan Zaid bin Tsabit mengenai suatu ayat, tulislah dengan dialek Quraisy karena Al-Qur'an turun dengan dialek mereka” Mereka lantas melaksanakannya. Setelah mereka menyalin isi lembaran-lembaran itu ke dalam sejumlah mushaf, Utsman mengembalikan lembaran tersebut kepada Hafshah. Setelah itu, ia mengirimkan sebuah mushaf hasil salinan itu ke setiap penjuru, dan ia memerintahkan untuk membakar" semua tulisan Al-Qur'an yang terdapat dalam sahifah atau mushaf selain mushaf yang ia salin.
Maka jadilah Mushaf Utsmani sebagai pedoman dalam pencetakan dan penyebarluasan mushaf-mushaf yang ada sekarang di dunia. Setelah sebelumnya (hingga era Utsman) kaum muslimin membaca Al-Qur'an dengan berbagai qiraa'at yang berbeda-beda, Utsman menyatukan mereka kepada satu mushaf dan satu cara baca serta menjadikan mushaf tersebut sebagai imamy dan oleh karena itulah mushaf tersebut dinisbatkan kepadanya dan ia sendiri dijuluki sebagai _Jaami'ul Qur'aan_ (pengumpul Al-Our'an).
*Kesimpulan:* Pengumpulan Al-Qur'an pada masa Abu Bakar adalah pengumpulan dalam satu naskah yang terpercaya, sedangkan pengumpulan Al-Qur'an pada masa Utsman adalah penyalinan dari sahifah-sahifah yang dipegang Hafshah ke dalam enam mushaf dengan satu cara baca, dan cara baca ini sesuai dengan tujuh huruf (tujuh cara baca) yang Al-Qur'an turun dengannya.
Dan untuk membaca rasm (tulisan) mushaf ada dua cara: sesuai dengan rasm itu secara hakiki (nyata), dan sesuai dengannya secara taqdiiriy (kira-kira).
Tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama bahwa pengurutan ayat-ayat bersifat tauqifiy (berdasarkan petunjuk langsung dari Nabi saw.), sebagaimana urutan surah-surah juga tauqifiy-menurut pendapat yang kuat. Adapun dalil pengurutan ayat adalah ucapan Utsman ibnu Ash r.a.: "Ketika aku sedang duduk bersama Rasulullah saw, tiba-tiba beliau mengangkat dan meluruskan pandangan matanya, selanjutnya beliau bersabda:
_"Jibril baru saja mendatangiku, ia memerintahkan aku meletakkan ayat ini di tempat ini dari surah ini: (إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَٰنِ وَإِيتَآئِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ) Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat.”_ *(an-Nahl: 90)*
Adapun dalil tentang pengurutan surah-surah adalah bahwa sebagian sahabat yang hafal Al-Qur'an di luar kepala (misalnya Ibnu Mas'ud) hadir dalam mudaarasah (penyimakan) Al-Qur'an yang berlangsung antara Jibril a.s. dan Nabi saw, dan mereka bersaksi bahwa mudaarasah tersebut sesuai dengan urutan yang dikenal dalam surah dan ayat sekarang ini.
Ada tiga syarat agar suatu ayat, kata, atau Qiraa'ah dapat disebut Al-Qur'an, yaitu: (1) sesuai dengan rasm 'utsmani walaupun hanya secara kira-kira, (2) sesuai dengan kaidah-kaidah nahwu (gramatika) Arab walaupun hanya menurut satu segi, dan (3) diriwayatkan secara mutawatir oleh sejumlah orang dari sejumlah orang dari Nabi saw. (inilah yang dikenal dengan keshahihan sanad).
[Selanjutnya: B. CARA PENULISAN AL-QUR'AN DAN RASM UTSMANI]
Tafsir Al Munir
KKTA Plus 4
2025/2026
