AL-A'RAAF (20)
AL-A'RAAF: 54
PEMBUKTIAN _RUBUBIYYAH_ DAN _ULUHIYYAH_ ALLAH DENGAN PENCIPTAAN DAN PERINTAH
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Ayat ini menunjukkan hal-hal berikut:
1. Allah SWT Esa dalam kekuasaan mengadakan makhluk, pencipta langit, dan pencipta bumi. Dia-lah yang wajib disembah.
2. Allah SWT bersemayam di atas Arasy. Kata Arasy disebut khusus karena dia adalah makhluk-Nya yang paling besar. *Salafussalih* berpendapat bahwa Dia bersemayam di atas Arasy dengan sebenarnya. Namun, cara bersemayam adalah tidak diketahui, dan tidak diketahui hakikatnya. *Imam Malik* mengatakan bahwa bersemayam diketahui (maksudnya dalam bahasa), caranya tidak diketahui. Pertanyaan tentangnya adalah bid'ah. Demikianlah *Ummu Salamah* berkata,. Mayoritas ulama-ulama dulu dan belakangan dari kalangan mutakallimin berpegang pada penyucian Allah SWT dari arah dan berposisi di suatu tempat. Pasalnya, hal itu mengharuskan bahwa ketika Dia ada pada arah tertentu. Dia ada di suatu tempat atau posisi tertentu dan mengharuskan adanya tempat dan posisi: gerak dan diam bagi yang menempat dalam posisi, perubahan, dan kejadian. Kata Arasy dalam ayat ditafsiri dengan raja dan sultan. Artinya, raja yang mutlak kekuasaannya tidak berkuasa, kecuali Allah SWT. *Al-Qurthubi* berkata: "Ini adalah pendapat yang bagus dan di dalamnya ada analisis bagus."
3. Malam dan siang saling bergantian. Pergantian keduanya adalah dalil bumi bulat, gerak, dan peredarannya. Dalam ayat ini, tidak disebutkan masuknya siang kepada malam. Cukuplah penyebutan satu dari yang lain, seperti *firman Allah SWT:*
_“Dia menjadikan pakaian bagimu yang memeliharamu dari panas."_ *(an-Nahl: 81)*
artinya dari dingin juga, seperti *firman Allah SWT:*
_“Di tangan Engkaulah segala kebajikan.”_ *(Aali ‘Imraan: 26)*
maksudnya kejelekan (kejahatan) juga.
4. Matahari, bulan, bintang-bintang dan planet-planet diciptakan oleh Allah SWT dengan dalil dia di-_athaf_-kan kepada langit. Artinya, Dia menciptakan langit, sementara langit ditundukkan dan tunduk kepada perbuatan Allah.
5. Bagi Allah saja penciptaan dan perintah. Ayat ini menunjukkan kebenaran Allah dalam khabar-Nya. Bagi Allah SWT penciptaan dan perintah. Dia menciptakan mereka dan memerintahkan sesuai dengan yang Dia sukai. Perintah ini menghendaki pelarangan. *Sufyan bin Uyainah* mengatakan bahwa Allah membedakan antara penciptaan dan perintah. Barangsiapa yang menggabungkan keduanya, ia telah kufur. Penciptaan artinya makhluk, sedangkan perintah artinya kalam (firman)-Nya yang bukan makhluk. *Firman-Nya,*
_“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ Maka Jadilah sesuatu itu."_ *(Yaasiin: 82)*
Pembedaan antara penciptaan dan perintah adalah dalil yang nyata tentang kesalahan pendapat orang yang mengatakan Al-Qur’an makhluk sebab kalau saja firman-Nya yang merupakan perintah adalah makhluk. *Allah telah berfirman: (أَلَا لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلْأَمْرُ ۗ)* ini adalah bentuk kesulitan berbicara dan aib. Allah SWHT suci dari berfirman apa yang tidak ada faedahnya.
Kalau perintah adalah makhluk, ia membutuhkan perintah lain yang melaksanakannya dan perintah itu membutuhkan perintah lain yang tidak ada habisnya. Ini adalah muhal sehingga terbuktilah bahwa perintah Allah yang merupakan kalam-Nya adalah qadim, azali bukan makhluk supaya menjadi sah para makluk eksis dengan perintah-Nya. Dengan dalil *firman Allah SWT:*
_“Dan di antara tanda-tanda (kebesaranJ-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan kehendak-Nya. Kemudian, apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu kamu keluar (dari kubur)."_ *(ar-Ruum: 25)*
*(وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتٍۭ بِأَمْرِهِۦٓ ۗ)* para makhluk eksis dengan perintah-Nya. Perintah bukanlah iradah sama sekali. Kaum *Mu’tazilah* berkata, "Perintah adalah iradah itu sendiri." *Al-Qurthubi* berkata, "Ini tidak benar, Allah memerintah apa yang tidak dinginkan dan melarang apa yang diinginkan. Tidakkah kamu melihat bahwa Dia memerintahkan Ibrahim menyembelih anaknya, padahal Dia tidak mengingingkannya. Allah memerintahkan Nabi-Nya shalat bersama umatnya lima puluh kali shalat. Padahal, Dia hanya menginginkan lima kali shalat. Allah menghendaki *Hamzah bin Abdul Muththallib* menjadi syahid ketika *Dia berfirman:*
_“Dan agar sebagian kamu dijadikanNya (gugur sebagai) syuhada."_ *(Aali 'Imraan: 140)*
sementara Dia melarang orang-orang kafir untuk membunuhnya. Dia tidak memerintahkannya."
6. Allah SWT Mahaagung, suci dari semua kehinaan, abadi, lestari dan tetap, banyak sekali kebajikan, bekas-bekas keutamaan, hasi-hasil yang mulia, dan luas anugerah dan kebaikan-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan sekalian alam.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
