AL-A'RAAF (6)
AL-A'RAAF: 19-25
KISAH ADAM DI SURGA DAN KELUAR DARINYA
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Setelah pengusiran iblis dari tempatnya di langit, Allah SWT berfirman kepada Adam (وَيَـٰٓـَٔادَمُ ٱسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ ٱلْجَنَّةَ).
Ini adalah perintah ibadah atau perintah pembolehan dan perintah mutlak ketika tidak ada kesusahan di dalamnya. Itu bukan perintah pembebanan dan tidak terkait de¬ ngan pembebanan. Ini dalil bahwa tinggalnya Adam di surga adalah di awal hidup keduanya. Kemudian, mereka diperintahkan untuk turun ke bumi karena tipu daya setan, kedengkian, dan bisikannya. Senjata paling berbahaya yang digunakan adalah menipu keduanya dengan sumpah yang dikuatkan dengan nama Allah, lalu keduanya tertipu. Kadang-kadang orang Mukmin tertipu dengan sumpah kepada Allah.
Ayat yang berbunyi (إِلَّآ أَن تَكُونَا مَلَكَيْنِ ) Bisa dipahami kelebihan malaikat daripada manusia sebagaimana tersebut dalam banyak ayat, di antaranya.
_“Dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat."_ *(al-An'aam: 50)*
_"Al-Masih sama sekali tidak enggan menjadi hamba Allah, dan begitu pula para malaikat yang terdekat (kepada Allah)."_ *(an-Nisaa': 172)*
*Al-Kalbi* mengatakan "Orang-orang Mukmin diutamakan daripada semua makhluk selain satu kelompok malaikat yaitu Jibril, Mikail, Israfil, malaikat maut sebab mereka termasuk utusan Allah.” *Ibnu Abbas, az-Zajjaj* dan banyak ulama mengutamakan orang-orang Mukmin daripada malaikat. Adapun ayat atau kejadian ini adalah sebelum kenabian.
*Firman Allah (لِيُبْدِىَ لَهُمَا مَا وُۥرِىَ عَنْهُمَا مِن سَوْءَٰتِهِمَا)* Ayat tersebut menunjukkan bahwa membuka aurat termasuk kemungkaran dan itu masih saja dianggap aib dalam tabiat manusia dan dianggap jelek oleh akal dan sesungguhnya Allah mewajibkan menutup aurat. Oleh karena itu, Adam dan Hawwa, bergegas menutupnya. Barangsiapa yang mengajak untuk membuka aurat, baik di depan laki-laki maupun perempuan, dia telah mengoyak tutup kemaluan, mengembalikan manusia kepada pedalaman yang hina dina, menjadikan perempuan komoditas kenikmatan dan hiburan, dan tidak menjaga harga diri yang diperintahkan oleh agama dan dikehendaki oleh fitrah (naluri) yang sehat. Kelakuannya seperti setan ketika melepas pakaian keduanya.
Iming-iming iblis kepada Adam ada pada gabungan dua perkara, yaitu agar mempunyai sifat malaikat dan kekal tanpa kematian sama sekali. Hukuman Adam dan Hawwa’ karena melanggar perintah Allah adalah turun ke bumi. Adapun hukuman di akhirat, telah digugurkan oleh Allah dengan mengampuni keduanya dan menerima tobat mereka. Ar-Razi telah memilih bahwa dosa ini muncul dari Adam sebelum dia menjadi nabi. Adapun ayat (قَالَ ٱهْبِطُوا۟ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّۭ ۖ) menunjukkan dua hal.
1. Adanya permusuhan abadi antara manusia dan setan. Karena pemimpin dalam permusuhan ini adalah Adam dan iblis, *Allah SWT berfirman* dalam surah Thaahaa:
_“Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama."_ *(Thaahaa: 123)*
2. Pembatasan waktu hidup manusia di dunia sesuai dengan ajalnya dari lahir sampai mati. Di bumi manusia hidup. Itu adalah nikmat yang agung sebab bumi adalah tempat tinggal dan menetap, menikmati perhiasan hidup, merasakan berbagai kenikmatan hidup, kemudian datang kematian, kebangkitan, keluar dari kubur, lalu hisab dan pembalasan di alam akhirat.
Inti dari kisah ini, adalah memberi petunjuk kepada kita apa yang dijadikan sebagai fitrah kita dan apa yang harus kita lakukan, yakni mensyukuri Allah dan menaati-Nya, melaksanakan perintah-perintah-Nya, serta menjauhi maksiat-maksiat dan waspada terhadap bisikan setan. Apabila telah mengetahui insting dan kecenderungan kita, tahu bahaya musuh kita, yaitu setan, selanjutnya, kita didik diri kita untuk mengingat perintah dan perjanjian Allah agar kita menyembah-Nya semata bukan yang lain. Kita bersihkan diri dengan akhlak dan etika yang bagus dan kita berusaha mengaturnya. Dengan demikian, kita akan bahagia di dunia dan akhirat. Kita telah melaksanakan misi kita dalam kehidupan ini.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
