AL-A'RAAF (3)
AL-A'RAAF: 6-9
AKIBAT DARI KEKUFURAN DI AKHIRAT DAN HISAB YANG BERAT TERHADAP AMAL PERBUATAN
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Ayat pertama (فَلَنَسْـَٔلَنَّ ٱلَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ) menunjukkan bahwa orang-orang kafir dihisab. *Allah SWT berfirman.*
_“Kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kamilah membuat perhitungan atas mereka."_ *(al-Ghaasyiyah: 26)*
Bahkan, tanggung jawab atau hisab adalah sesuatu yang umum bagi semua hamba sampai kepada Rasul (وَلَنَسْـَٔلَنَّ ٱلْمُرْسَلِينَ). Pertanyaan kepada para rasul adalah pertanyaan minta kesaksian mereka dan minta kejelasan. Artinya tentang jawaban kaum mereka kepada mereka. Inilah makna *firman Allah SWT,*
_"Agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka. Dia menyediakan adzab yang pedih bagi orang-orang kafir."_ *(al-Ahzaab: 8)*
Pertanyaan kepada kaum para rasul adalah pertanyaan retoris, penghinaan, dan mempermalukan. Ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT menghisab semua hambaNya sebab mereka tidak keluar dari status sebagai rasul atau kaum yang dikirim kepada mereka utusan.
Adapun *firman Allah SWT* dalam surah *al-Qashash*,
_"Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka."_ *(al-Qashash: 78)*
ketika mereka telah menetap dalam siksa. Alam akhirat ada beberapa tempat. Satu tempat yang mereka ditanya untuk dihisab, satu tempat yang mereka tidak ditanya. *Firman Allah SWT (فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِم بِعِلْمٍۢ ۖ)* menunjukkan bahwa Allah SWT Maha Mengetahui dengan ilmu. Pendapat orang yang mengatakan bahwa tidak ada ilmu bagi Allah adalah batal.
*Firman Allah SWT (وَمَا كُنَّا غَآئِبِينَ)* menunjukkan adanya pengawasan dan penglihatan Ilahi terhadap amal ibadah makhluk.
Kesimpulan adalah ayat ini membuktikan adanya pertanyaan dan hisab kepada semua hamba pada hari Kiamat. Ayat kedua menunjukkan ditimbangnya amal perbuatan hamba dengan timbangan. Timbangan itu adalah yang benar (adil) karena hadits Jabir di atas. Ada yang mengatakan penimbangan lembaran-lembaran amal hamba. *Al-Qurthubi* mengatakan bahwa pendapat ini yang shahih. Yang dimaksud dengan timbangan menurut pendapat *Mujahid, adh-Dhahhak, dan al-A'masy* adalah keadilan dan pengadilan. Yang dimaksud dengan timbangan menurut mayoritas ulama adalah timbangan sebenarnya untuk menunjukkan ilmu Allah terhadap amal perbuatan hamba-Nya dan keadilan-Nya dalam menghisab dan membalas mereka. Barangsiapa yang kebaikannya unggul daripada kejelekannya, dia termasuk orang-orang yang selamat. Barangsiapa yang kejelekannya unggul daripada kebaikannya, dia termasuk orang-orang yang binasa dan disiksa.
*Ibnu Abbas* berkata, "Kebaikan dan kejelekan ditimbang dalam timbangan yang mempunyai lidah timbangan dan dua piringan. Orang Mukmin didatangkan amalnya dalam bentuk yang paling bagus dan diletakkan dalam piringan timbangan lalu kebaikankebaikannya lebih berat daripada kejelekannya. Itulah *firman Allah SWT (فَمَن ثَقُلَتْ مَوَٰزِينُهُۥ)* amal perbuatan orang kafir didatangkan dalam bentuk yang paling jelek, lalu diletakkan pada timbangan. Timbangan kebaikannya ringan sehingga dia jatuh ke dalam neraka." ===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
