Surah Maryam Ayat 41-50

*MARYAM (8)*
 
*KISAH NABI IBRAHIM A.S., ATAU DIALOG DENGAN AYAHNYA TENTANG PENYEMBAHAN BERHALA*

*Surah Maryam Ayat 41-50**

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Ayat-ayat di atas merupakan dalil untuk beberapa hal berikut:

1. Sebab disebutkannya kisah Ibrahim a.s. ada tiga:

_Pertama,_ lbrahim adalah bapak bangsa Arab. Orang-orang Arab mengakui ketinggian derajatnya dan kesucian agamanya. Allah berfirman kepada Nabi Muhammad saw: 

_"Bacakanlah kepada mereka di dalam Al-Qur'an tentang lbrahim karena mereka adalah keturunannya dan sesungguhnya dia adalah orang yang lurus dan Muslim. Dia tidak menjadikan tuhan selain Allah. Oleh karena itu, jika kalian meniru nenek moyang kalian, tirulah lbrahim yang tidak menyembah berhala. Jika kalian ingin berdalil, pikirkanlah dalil-dalil yang disebutkan oleh lbrahim a.s. agar kalian mengetahui kerusakan penyembahan berhala. Intinya, ikutilah lbrahim, baik dengan menirunya atau mengikutinya dalam mencari dalil, namun mengapa kalian menjadikan tuhan-tuhan lain selain Allah?"_

Allah berfirman:

_"Dan orang yang membenci agama Ibrahim, hanyalah orang yang memperbodoh dirinya sendiri."_ *(al-Baqarah: 130)*

_Kedua,_ pada zaman Rasulullah saw., banyak orang kafir yang mengatakan, _"Bagaimana kami meninggalkan agama nenek moyang kami?"_ lalu Allah mengingatkan mereka dengan kisah lbrahim a.s. dan menjelaskan bahwasanya lbrahim a.s. telah meninggalkan agama ayahnya dan membatalkan kata-kata ayahnya dengan dalil yang kuat, jadilah kalian, wahai orang-orang kafir, seperti dia.

_Ketiga,_ banyak orang kafir yang berpegang teguh pada taklid dan mengingkari penggunaan dalil. Hal ini sebagaimana dikisahkan oleh Allah SWT tentang mereka.

_"Bahkan mereka berkata, _"Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama."_ *(az-Zukhruf: 22)* 

Mereka menjawab, _"Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya."_ *(al-Anbiyaa':53)*

2. Allah SWT menceritakan Ibrahim yang berpegang teguh kepada dalil untuk mengingatkan rusaknya cara yang digunakan orang-orang kafir tersebut. Allah SWT menyebut Nabi Ibrahim sebagai seorang yang _shiddiiq_ dan seorang nabi. Artinya, dia adalah orang yang sangat _shaadiq,_ yaitu orang yang selalu jufur atau selalu membenarkan kebenaran sehingga ia dikenal dengan sifat tersebut.

3. Nabi Ibrahim sangat sopan, lembut dan santun ketika berdialog dengan ayahnya. Dia selalu mengulang kata-katanya, "Wahai ayahku", sebagai bentuk kelembutan dan kasih sayang. Kemudian ketika dia merasa putus asa dan merasa bahwa ayahnya tidak akan memenuhi dakwahnya, dia berkata, _"Salaamun 'alaik"_ salam perpisahan, bukan salam penghormatan. _"Aku akan memohon ampunan dari Allah untukmu, dengan memohon hidayah dari-Nya untukmu."_ Dalam seluruh kata-katanya kepada ayahnya, dia sangat mengkhawatirkan ayahnya dari kekafiran dan dari adzab neraka. Namun, sang ayah, Azar; bersikap sombong dan angkuh. Dia selalu menggunakan kata-kata ancaman, memutuskan hubungan keluarga, mencela, mencaci, dan mengancam akan merajam dengan bebatuan.

4. Ibrahim mencela berhala dari tiga hal. _Pertama,_ ia tidak mendengar. _Kedua,_ ia tidak dapat melihat. _Ketiga,_ ia tidak dapat memberi manfaat apa pun kepadamu. Seakan-akan Ibrahim a.s. berkata kepada ayahnya, 'Akan tetapi, sifat ketuhanan hanyalah milik Tuhanku karena sesungguhnya Dia mendengar mengabulkan doa-doa, dan melihat.

Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:

_"Sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat."_ *(Thaahaa:46)*

Dia juga memenuhi keperluan manusia:

_"Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orong yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya,."_ *(an-Naml: 62)*

5. Hendaknya manusia berhati-hati jangan sampai mematuhi perintah setan dalam melakukan kekafiran. Barangsiapa mematuhinya sedikit saja dengan melakukan kemaksiatan, dia telah menyembahnya. Dan setan senantiasa membangkang Tuhannya dan melanggar perintah-perintah-Nya.

6. Ibrahim a.s. memperingatkan ayahnya, Azar, tentang buruknya kekafiran dan akibatnya. Dia berkata, _"Sesungguhnya aku takut engkau akan mati dalam kekafiran sehingga engkau pun akan disentuh oleh adzab, maka engkau pun menjadi teman setan di dalam neraka."_

7. Jumhur (mayoritasJ ulama berpendapat bahwasanya seorang Muslim tidak boleh mengucapkan salam terlebih dahulu kepada orang kafir karena hal tersebut ialah pemuliaan, sedangkan orang kafir bukan orang yang berhak mendapatkan pemuliaan tersebut. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda: 

(لَا تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلَا النَّصّا رَى بِا لسَّلَا مِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فَيْ طَرِيقٍ فَا ضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ)

_"Janganlah kalian memulai salam kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani. Apabila kalian bertemu dengan salah satu dari mereka di jalan, maka desaklah mereka ke tempat yang paling sempit."_ *(HR Bukhari dan Muslim)*

Tidak menutup kemungkinan hadits ini untuk peristiwa khusus setelah terjadinya konspirasi orang-orang Yahudi untuk membunuh Nabi saw. sebagaimana diisyaratkan oleh sebagian ulama.

Namun, *Sufyan bin Uyainah* berpendapat bolehnya mengucapkan salam kepada orang kafir. *Sufyan bin Uyainah* pernah ditanya, _"Apakah boleh mengucapkan salam kepada orang kafir?"_ Dia menjawab, _"Ya, boleh._ Allah SWT berfirman, _"Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adi1."_ *(al-Mumtahanah : 8)*

Allah berfirman:

_"Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada lbrahim."_ *(al-Mumtahanah: 4)* dan ayat seterusnya.

Nabi Ibrahim a.s. berkata kepada ayahnya:

_"Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu."_ *(Maryam: 47)*

Pendapat ini didukung oleh hadits lain dalam Shahih Bukhari dari Usamah bin Zaid bahwa Nabi saw. mengucapkan salam kepada suatu majelis yang di dalamnya terdapat orang-orang Muslim, orang-orang musyrik para penyembah berhala, dan orang-orang Yahudi, di dalamnya juga terdapat Abdullah bin Ubay bin Salul.

*Ath-Thabari* berkata, _"Diriwayatkan dari para kalangan salaf dahulu selalu mengucapkan salam kepada Ahlul Kitab. Ibnu Mas'ud r.a. juga melakukan hal tersebut kepada seorang pedagang yang menemaninya di perjalanan dan dia berkata, 'Akan tetapi, ini adalah hak pertemanan."_

*Abu Umamah r.a.,* jika dia keluar dari rumahnya, setiap kali berpapasan dengan seorang Muslim, seorang Nasrani, anak kecil, dan orang tua, dia selalu mengucapkan salam kepada mereka. Dia ditanya tentang apa yang dia lakukan tersebut maka dia menjawab, "Kita diperintahkan untuk menebarkan salam."

Al-Auza'i juga ditanya tentang seorang Muslim yang berpapasan dengan orang kafir lalu dia mengucapkan salam kepada orang kafir tersebut, al-Auza'i menjawab, "Jika kamu mengucapkan salam kepadanya (kepada orang kafir), hal itu telah dilakukan orang-orang saleh sebelum kamu. Jika kamu tidak mengucapkan salam kepadanya, hal itu juga dilakukan oleh orang-orang saleh sebelummu."

Adapun memohonkan ampun kepada orang kafir maka telah kami jelaskan ketika menafsirkan ayat-ayat di atas.

Kesimpulannya, hal itu dilarang setelah orang kafir tersebut meninggal dunia dan dibolehkan jika dia masih hidup, dengan arti memohonkan hidayah dan petunjuk untuknya. Dalil bahwa memohonkan ampun untuk orang kafir tidak boleh adalah dua ayat yang telah disebutkan: 

_"Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan qmpun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik."_ *(at-Taubah: 113)*

_"Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada lbrahim."_ *(al-Mumtahanah: 4)*

Maksudnya, jangan mengikutinya dalam memohonkan ampun untuk ayahnya yang kafir.

8. *Ar-Razi* berkata, _"Ketahuilah bahwasanya tidak ada seorang pun yang merugi karena berkorban untuk Allah. Nabi Ibrahim a.s. ketika meninggalkan kaumnya dan agamanya serta memilih hijrah kepada Tuhannya, ke tempat yang diperintahkan kepadanya maka hal itu tidak membuatnya rugi sama sekali, baik dalam agama maupun dunianya. Sebaliknya, hal itu memberinya manfaat, yaitu Allah menggantinya dengan anak-anak yang diangkat menjadi para nabi."_ Ini merupakan salah satu nikmat terbesar di dunia dan di akhirat. Di samping kenabian yang dianugerahkan Allah kepada mereka, Allah juga menganugerahkan kepada mereka harta, kedudukan, para pengikut, dan keturunan yang suci dan baik. Allah SWT berfirman: (وَجَعَلْنَا لَهُمْ لِسَانَ صِدْقٍ عَلِيًّا)dijadikan untuk mereka pujian yang baik karena seluruh agama memuji mereka dengan pujian yang baik.

Kata (لِسَانَ) dapat berbentuk maskulin _(mudzakkar)_ dan feminin _(mu'annats)._ ===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login