QS. Al-A‘rāf: 199.
“Jadilah engkau pemaaf, perintahkan yang ma‘ruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang jahil.”Ayat ini bukan satu perintah, tapi tiga sikap sekaligus. Dan urutannya sangat penting.
1️.“Khudzil ‘afwa” → jadilah pemaaf. Artinya: Memaafkan bukan berarti membenarkan kezaliman, Tapi membersihkan hati dari dendam. Memaafkan itu urusan hati, bukan urusan jarak fisik. ➡️ Anda boleh memaafkan, tanpa harus membuka pintu dizalimi lagi.
2️.“Wa’mur bil ‘urf” → tetap di jalan yang benar
Maksudnya: Kita tetap pegang prinsip, Tidak ikut cara jahilnya, Tidak membalas dengan kezaliman. à Ini menunjukkan ketinggian akhlak, bukan kelemahan.
3️. “Wa a‘ridh ‘anil jāhilīn” → berpaling dari orang jahil
Nah, ini inti pertanyaan Anda. ❗ Berpaling di sini apa maksudnya?
Para ulama menjelaskan: Tidak meladeni, Tidak membuka ruang konflik, Menjaga jarak dengan cara terhormat, Bukan memutus silaturahim dengan kebencian.
Jadi jawabannya jelas: BOLEH bahkan DIANJURKAN menjaga jarak
jika: Kezaliman berulang, Tidak ada penyesalan, Kita sudah menasihati dengan baik, Berdekatan hanya membuka pintu dosa baru
Memaafkan ≠ membiarkan dizalimi
Ini kaidah penting: Islam tidak menyuruh kita jadi korban terus-menerus, Sabar bukan berarti pasrah pada kezaliman. Namun Menjaga diri dari kezaliman itu bagian dari hikmah. Rasulullah ﷺ tidak mendekatkan diri kepada orang yang terus-menerus menyakiti beliau jika tidak ada maslahat.
Contoh sikap yang benar (praktis) adalah Tetap sopan, Tidak membuka rahasia diri, Tidak intens berinteraksi, Tidak memancing konflik, Tidak membalas keburukan, Tidak menaruh dendam
Inilah yang dinamakan menjaga diri tanpa mengeraskan hati
Wallahu a’lam bisshowab