Pertanyaan yang sangat dalam dan menyentuh aspek psikologi iman dan tarbiyah tauhid.
Jawaban atas Pertanyaan Antum
Ya, benar sekali. Kisah ini menunjukkan bahwa:
o Keimanan tidak hanya ditentukan oleh besarnya bukti.
o Keimanan sangat ditentukan oleh kesiapan hati, kebersihan jiwa, dan pemahaman yang benar.
o Hidayah adalah perpaduan antara dalil dan kesiapan batin.
o Bukti tanpa hati yang bersih hanya menjadi tontonan. Sedangkan nukti dengan hati yang hidup menjadi cahaya.
Allah berfirman:
وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَىٰ قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَىٰ أَصْنَامٍ لَّهُمْ ۚ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَل لَّنَا إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ (QS. Al-A‘rāf: 138)
Padahal mereka baru saja menyaksikan laut terbelah dan Fir‘aun ditenggelamkan. Lalu mengapa iman mereka masih rapuh?
1️. Mukjizat Tidak Otomatis Melahirkan Iman yang Kokoh. Mukjizat adalah hujjah (bukti), tetapi bukan jaminan lahirnya hidayah.
Allah berfirman:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ
Artinya: Engkau (Muhammad) tidak dapat memberikan hidayah kepada orang engkau cintai, namun Allah yang memberikan hidayah kepada yang dikehendaki. (QS. Al-Qashash: 56)
Banyak kaum yang melihat mukjizat namun tetap kufur:
o Kaum ‘Ād dan Tsamūd melihat tanda-tanda kekuasaan Allah.
o Kaum Nabi Shalih melihat unta mukjizat.
o Quraisy melihat Al-Qur’an dan berbagai mukjizat Nabi ﷺ.
Jadi, melihat bukti tidak otomatis tunduk secara batin.
2️. Warisan Mentalitas Perbudakan
Bani Israil hidup lama di bawah Fir‘aun. Mereka: Terbiasa diperintah. Terbiasa menyaksikan kultus individu. Terbiasa melihat simbol-simbol kekuasaan dan sesembahan. Ketika melihat kaum penyembah berhala, alam bawah sadar mereka tertarik pada simbol konkret.
Ini menunjukkan bahwa aqidah bukan hanya soal pengetahuan, tapi juga pembebasan mental dan budaya.
3. Iman Itu Amal Hati, Bukan Sekadar Informasi
Iman menurut Ahlus Sunnah:
تصديق بالقلب، وقول باللسان، وعمل بالجوارح
Berakar di hari, terucap dengan lisan dan aplikasi dengan anggota tubuh
Ia berakar di hati. Hati yang: Belum bersih, Masih terikat dunia, Belum matang secara ruhani, akan mudah goyah meskipun telah melihat kebenaran.
Allah berfirman:
لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا
“Mereka punya hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami.” (QS. Al-A‘rāf: 179)
Masalahnya bukan pada kurangnya bukti, tetapi pada ketidaksiapan hati.
4️. Mukjizat Menguatkan yang Siap, Membingungkan yang Tidak Siap
Mukjizat berfungsi: Menguatkan orang yang hatinya terbuka. Menambah kesesatan bagi yang keras kepala.
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
Dan Kami tutunkan Al-Quran sebagai syifa (obat) dan rahmat bagi orang yang beriman dan tidaklah bertambah kezhaliman kecuali kerugian. (QS. Al-Isrā’: 82)
Al-Qur’an sendiri—mukjizat terbesar—bisa menjadi rahmat atau malah menambah kerugian.
5️. Pelajaran Tarbiyah Tauhid
Kisah ini menunjukkan bahwa: Tauhid harus ditanam melalui proses. Iman butuh pendidikan berkelanjutan. Pembebasan fisik tidak otomatis membebaskan hati. Kekuatan iman sangat terkait dengan kebersihan hati. Karena itu Nabi Musa menjawab:
إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ
“Sesungguhnya kalian adalah kaum yang tidak mengetahui.”
Masalah mereka adalah jahl (ketidaktahuan yang mendalam tentang hakikat uluhiyah).
Allahu A’lam bisshowab