Wa’alaikumussalām warahmatullāhi wabarakātuh.
Terima kasih sudah bertanya dengan jujur dan berani membuka luka keluarga. Pertanyaan ini memang berat, tapi sangat penting karena menyangkut ridha Allah, hak orang tua, dan keadilan dalam keluarga. Saya coba jawab dengan tenang, adil, dan tidak menghakimi ya.
Kita pisahkan dulu beberapa perkara (ini kunci agar tidak rancu).
Dalam Islam, setiap kewajiban dan dosa dinilai secara terpisah.
Artinya Ibadah orang tua, Sikap orang tua kepada anak. Dan Kewajiban anak kepada orang tua. Ini semua tidak saling membatalkan satu sama lain.
1️. Orang tua tidak menjalankan rukun Islam dengan sempurna
Ini fakta yang menyedihkan, tapi perlu diluruskan dengan ilmu. Shalat sering ditinggalkan, Zakat mal tidak ditunaikan padahal mampu. Haji belum dikerjakan padahal mampu, Ini adalah dosa besar, dan tanggung jawabnya di hadapan Allah adalah urusan pribadi orang tua tersebut.
Namun: Dosa mereka tidak otomatis menggugurkan status mereka sebagai orang tua. Tidak otomatis menghalangi anak untuk berbakti, Allah Maha Adil.
Setiap orang memikul dosanya sendiri.
2️. Tentang “Surga di telapak kaki ibu”. Hadits ini benar, tapi sering disalahpahami.
Maknanya: Surga terbuka jika ibu menjalankan perannya dengan benar, Bukan cek kosong, bukan berarti: “Apa pun yang ibu lakukan, pasti masuk surga”
Jika seorang ibu yang Zalim atau Pilih kasih dianggap menyakiti anak tanpa hak, Maka ia akan dimintai pertanggungjawaban. Dan Ridha Allah tidak berdiri di atas kezaliman, meskipun pelakunya orang tua.
3️. Pilih kasih kepada anak: bagaimana hukumnya? Rasulullah ﷺ dengan tegas melarang orang tua berbuat tidak adil kepada anak-anaknya. Ketika ada sahabat yang memberi hadiah hanya kepada satu anak, Nabi bersabda: “Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anakmu.”
Maka, Pilih kasih adalah dosa, karena akan menimbulkan iri, luka batin dan permusuhan saudara. Dan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Ini berlaku baik kepada anak yang dibantu berlebihan maupun yang diabaikan.
4️. Apakah orang tua seperti ini bisa mendapat ridha Allah?
Jawabannya adalah bahwa Ridha Allah tidak otomatis, tapi masih mungkin, jika Mereka bertaubat, Memperbaiki shalat, Menunaikan zakat yang ditinggalkan, Memohon maaf atas ketidakadilan, Berusaha adil meski di usia tua. Allah Maha Pengampun, tapi Allah juga Maha Adil.
5️. Lalu bagaimana posisi anak-anaknya?
Ini bagian yang penting. Anak tetap wajib Berbakti, Sopan, Tidak durhaka, Tidak membuka aib orang tua
Anak tidak wajib Membenarkan kezaliman, Menyetujui pilih kasih, Memendam luka sampai hancur
Dan Anak boleh Menjaga jarak secara adab, Menolak perlakuan tidak adil dengan santun dan Menguatkan diri secara mental dan spiritual.
Tentang iri kakak & adik. Yang terjadi ini bukan sekadar iri, tapi luka pengasuhan dan kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi. Dan itu bukan sepenuhnya kesalahan anak-anak.
Tugas anak sekarang adalah Jangan saling bermusuhan, Sadari bahwa akar masalahnya bukan mereka, Jangan mengulang pola yang sama ke generasi berikutnya.
Kesimpulannya adalah Orang tua yang meninggalkan rukun Islam & pilih kasih tidak otomatis diridhai Allah, Mereka pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Namun Pintu taubat masih terbuka, dan Anak tetap berpahala besar jika sabar & berbakti dengan batas karena Surga tidak dibangun di atas kezaliman
Kadang Allah tidak memberi kita orang tua yang ideal, tapi memberi kita kesempatan menjadi anak yang Allah ridhoi.
Dan sering kali Anak yang terluka tapi tetap menjaga adab, derajatnya sangat tinggi di sisi Allah.